<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JanuarSW.com</title>
	<atom:link href="http://januarsw.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://januarsw.com</link>
	<description>Cakrawala : membuka fikir, menata hati</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jul 2010 05:28:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tangan Tuhan dan Business Summit 2010 IKA ITS</title>
		<link>http://januarsw.com/2010/06/tangan-tuhan-dan-business-summit-2010-ika-its/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2010/06/tangan-tuhan-dan-business-summit-2010-ika-its/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 13:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[business summit]]></category>
		<category><![CDATA[ika its]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka ulang tahun ke-50 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang jatuh pada tanggal 10 Nopember mendatang, Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) menggelar Business Summit 2010 IKA ITS (Busum 2010 IKA ITS). Dengan mengusung tema, “ Mengembangkan Jejaring Bisnis Untuk Menguatkan Daya Saing Ekonomi Bangsa” telah usai dilaksanakan di Ballroom Hotel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-167" style="margin: 10px;" title="busum ika 2010" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/busum-ika-2010.jpg" alt="busum ika 2010" width="196" height="96" />Dalam rangka ulang tahun ke-50 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang jatuh pada tanggal 10 Nopember mendatang, Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) menggelar Business Summit 2010 IKA ITS (Busum 2010 IKA ITS). Dengan mengusung tema, “ Mengembangkan Jejaring Bisnis Untuk Menguatkan Daya Saing Ekonomi Bangsa” telah usai dilaksanakan di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, SCBD, Jakarta Rabu (23/6) lalu. Dibuka Wakil Presiden RI, Prof. Boediono, gelaran ini menyedot peserta yang memenuhi seluruh ruangan ballroom. Yang tidak tertampung, karena terlambat atau kehabisan tiket, harus cukup puas mengikuti dari luar ballroom melalui beberapa panel televisi yang disediakan panitia. Ditaksir sekitar 650 orang hadir memenuhi pembukaan Busum 2010 IKA ITS ini. Wapres mengangkat isu keterkaitan perguruan tinggi dan kewirausahaan dalam kaitannya dengan daya saing  bangsa. Beliau sampaikan, tak akan maju suatu bangsa jika kalangan pengusaha atau entrepreneur di suatu bangsa jumlahnya tak signifikan. Karena itu, perguruan tinggi sudah harus menjadikan entrepreneurship bagian dari kurikulumnya. Setelah pembukaan, Stadium Generale yang selanjutnya sedianya dilaksanakan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, diwakilkan kepada salah satu Deputy Menko, Pak Luki Eko Prawiro. Pak Luki banyak mengangkat potensi negeri kita jika dikaitkan dengan target pendapatan Rp 2000 Triliun pertahun untuk mencapai Rp 10.000 Trilun di akhir kepemimpinan SBY di 2014 dengan pertumbuhan ekonomi per tahunnya 7,7%. Setelah rehat makan siang, dua Business Chamber dilaksanakan secara parallel. Business Chamber A mengupas persoalan infrastruktur, <img class="aligncenter size-medium wp-image-173" title="wapres dan dwi s" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/wapres-dan-dwi-s-300x225.jpg" alt="wapres dan dwi s" width="300" height="225" />perindustrian dan energy. Di paruh kedua sore itu, Menteri Pekerjaan Umum RI Djoko Kirmanto berkenan hadir sebagai salah satu panelis bersama beberapa panelis dari IKA ITS. Di Chamber B, persoalan ICT (Information and Communication Technology) dan Kelautan menjadi topik bahasan para panelis. Menteri Kelautan dan Perikanan RI Fadel Muhammad hadir bersama panelis lainnya di sesi pertama Chamber B ini. Menteri Kominfo RI Tifatul Sembiring hadir di sesi kedua. Beberapa catatan sudah dirangkum <em>Steering Committee</em> (SC) untuk kelima sektor itu. Sebagian diantaranya, langsung di-release ke publik begitu acara ditutup Menteri Pekerjaan Umum. Minggu depan ini, SC masih menyusun mozaik pemikiran yang terangkum menjadi kerangka yang utuh untuk diserahkan kepada pemerintah. Harapan yang ditunggu Wapres juga saat pembukaan. Hadir juga Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh yang juga merupakan Ketua Senat IKA ITS. Konten lainnya, dapat di-<em>search</em> di internet.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-169" style="margin: 10px;" title="logo-ika-baru" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/logo-ika-baru1-199x300.jpg" alt="logo-ika-baru" width="199" height="300" />Gelaran akbar ini pertama kalinya buat IKA ITS. Mendatangkan seorang Wapres dan beberapa Menteri di satu even untuk membahas persoalan bangsa adalah hal cukup berat. Dirancang hampir dua tahun, gelaran ini akhirnya terwujud. Sebagai salah satu SC yang membidangi sektor ICT sesuai <em>background</em> saya, banyak hal berkesan dari gelaran ini. Rapat-rapat SC yang digelar hampir tiap minggu di Jakarta, menyisakan kenangan buat saya. Rapat yang melibatkan banyak senior saya dari berbagai <em>background</em> profesi ini menunjukkan pada saya, bahwa kekuatan terbesar dari sebuah keberhasilan adalah keyakinan akan keberhasilan itu sendiri. Disamping tentu saja, komitmen para penyelenggaranya. Seorang senior saya salah satu pimpinan perusahaan perminyakan swasta nasional, tekun sekali mengikuti rapat-rapat SC yang seringkali berakhir mendekati pergantian hari. Beliau selalu hadir. Malahan saya justru baru intens hadir di rapat-rapat SC sebulan sebelum pelaksanaan. Sebelumnya, koordinasi lebih sering saya ikuti melalui e-mail dan SMS. Saya terinspirasi sekali dengan beliau. Senior lainnya, politikus dari salah satu partai tiga besar pemenang Pemilu 2009, juga intens mengikuti setiap rapat SC yang digelar. Rapat SC terakhir sebelum penyelenggaraan malah digelar di kantornya Gedung DPR RI. Itu hanya dua yang saya ceritakan dari beberapa rekan SC lain yang meski tidak intens mengikuti rapat-rapat SC, tapi pasti memiliki kontribusi besar akan suksesnya gelaran lalu.</p>
<p>***</p>
<p>Gelaran yang besar pasti menyisakan cerita tak terlupakan dibaliknya. Pada rapat SC terakhir, setelah lima sektor tuntas diulas dan dibahas, persoalan yang dibahas justru masalah yang dihadapi <em>Organizing Committee </em>(OC) yakni mengenai lokasi Pembukaan Busum 2010 IKA ITS yang sudah dipastikan dibuka Pak Boediono, Wapres RI. Protokoler istana memang memiliki <em>code of conduct</em> sendiri. Pilihan tempat pembukaan ternyata menjadi dua. Pertama, dan ini harapan Panitia, dibuka langsung di Hotel Ritz Carlton. Pilihan kedua, dan ini muncul belakangan, justru dibuka di Istana Wapres, di Jalan kebon Sirih itu. Pilihan pertama membutuhkan prasyarat bahwa ballroom Ritz Carlton harus penuh yang berarti, menurut hitungan Protokol Istana, minimal dibutuhkan sekitar 500 orang. Jika kurang dari itu, maka jatuhlah pilihan kedua yakni pembukaan akan dilaksanakan di Istana Wapres yang berkapasitas 250 orang. Jika pilihan pertama yang dipenuhi panitia, hadangan terbesar cuma satu yaitu bagaimana memastikan gelaran ini bisa dihadiri minimal 500 orang. Tapi jika pilihan kedua yang diambil, yang menghadang panitia jadi dua : bagaimana mengubah informasi pelaksanaan pembukaan menjadi di Istana Wapres sementara di undangan yang tersebar sudah dicetak di Ritz Carlton, dan bagaimana ‘membagi’ peserta di kedua tempat yakni sebagian di Istana Wapres yang hanya berkapasitas sekitar 250 orang dan sebagian lagi di hotel Ritz Carlton bagi yang sudah terlanjur datang ke Ritz Carlton. Tapi tak mungkin yang ‘ditinggal’ di Ritz Carlton juga tak bisa mengikuti acara pembukaan. Maka, muncullah gagasan menggunakan teknologi video conference antara Istana Wapres dan ballroom Ritz Carlton. Putusan yang sulit, mengingat gelaran akbar tinggal empat hari, dan salah satu operator telekomunikasi yang dihubungi menyatakan tak sanggup memenuhi permintaan panitia. Malam itu, pada rapat SC yang terakhir, SC   memutuskan pembukaan tetap di Ritz Carlton.</p>
<p>***</p>
<p>Begitulah….Saya katakan melalui SMS kepada salah satu senior saya yang di OC menanggapi kekhawatirannya, bahwa yang sekarang kita lakukan hanyalah berusaha keras mendistribusikan undangan yang ada di sisa-sisa waktu dan berdoa dengan segenap keyakinan bahwa pada saatnya, Tuhan akan turun tangan. Tapi tentu tak seperti ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona di Final Piala Dunia 1986 yang membantunya memasukkan gol ke gawang Pieter Shilton dari Inggris dan membawa Argentina jadi Juara Dunia.</p>
<p>Seperti kata Prof. Yohannes Surya, pengasuh para Juara Olimpiade Fisika, jika keyakinan sudah sangat kuat, maka tak ada pilihan bahkan alam semesta pun turut mendukung… Wallahu’alam.</p>
<p>JANUAR SETYO WIDODO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2010/06/tangan-tuhan-dan-business-summit-2010-ika-its/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>World Cup 2010 dan GANEFO</title>
		<link>http://januarsw.com/2010/06/world-cup-2010-dan-ganefo/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2010/06/world-cup-2010-dan-ganefo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 01:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[bung karno]]></category>
		<category><![CDATA[ganefo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Piala Dunia 2010 telah dibuka 11 Juni kemarin di stadion Soccer City, Johannesbur, Afrika Selatan. Dengan diiringi atraksi pesawat jet, helaran bola paling akbar di planet bumi ini digelar sebulan ke depan. Dipastikan semua superhero bola dari berbagai Negara akan turun membela negaranya masing-masing. Sementara, lupakan dulu heboh video, Century atau malahan pemilihan Ketua KPK.
Ya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-156" title="world cup 2010" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/world-cup-2010.jpg" alt="world cup 2010" width="124" height="124" />Piala Dunia 2010 telah dibuka 11 Juni kemarin di stadion Soccer City, Johannesbur, Afrika Selatan. Dengan diiringi atraksi pesawat jet, helaran bola paling akbar di planet bumi ini digelar sebulan ke depan. Dipastikan semua superhero bola dari berbagai Negara akan turun membela negaranya masing-masing. Sementara, lupakan dulu heboh video, Century atau malahan pemilihan Ketua KPK.</p>
<p>Ya, Piala Dunia sejak dulu memang pelepas penat. Tidak hanya bagi penggila bola, bahkan bagi yang tak suka bola pun Piala Dunia memberikan pengaruh. Paling tidak, penjadwalan ulang tidur dan ekstra pengeluaran untuk teman menonton. Afrika Selatan memang fenomenal. Setelah menyelesaikan rekonsialisi nasional antara korban politik apartheid dan pelakunya, Negara ini terus berbenah menuju masa depan. Lupakan segregasi ras, lupakan pertikaian dan pembunuhan. Songsong kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Dan persetujuan FIFA untuk menjadikan Afrika Selatan sebagai penyelenggara bisa jadi milestone rakyat Afrika Selatan khususnya dan bagi benua Afrika bahwa mereka sudah mampu menggelar pesta skala dunia ini. Meski Nelson Mandela yang berpengaruh besar pada terpilihnya Afrika Selatan sebagai penyelenggara tak hadir pada pembukaan karena cucunya kecelakaan, even besar ini memang begitu membanggakan bangsa ras Negroid di manapun ia berada.</p>
<p>***</p>
<p>Beberapa waktu lalu, di jalan-jalan ibukota terpasang spanduk sangat menantang. Spanduk itu berisi permintaan dukungan kepada masyarakat agar tahun 2022 Indonesia bisa menjadi penyelenggara Piala Dunia. Tahun 2022 itu artinya dua belas tahun lagi atau tiga kali perhelatan piala dunia dilaksanakan, tiga kali ganti Presiden (kalau presidennya tidak dua kali menjabat),  baru Indonesia jadi tuan rumah. Tapi entah kenapa, pemerintah tak menyetujui gagasan itu. Konon, PSSI diminta fokus dulu membenahi dulu sistem dan prestasi bola Indonesia dulu, baru mikir soal dunia. Mungkin PSSI disuruh memberesi dulu dari soal supporter yang gampang rusuh, sampai korupsi yang menghancurkan internal PSSI. Mungkin pemerintah khawatir, karut marut persepakbolaan Indonesia bakal mempengaruhi persepsi FIFA (dan berarti persepsi dunia) soal kemampuan Indonesia. Ya sudah, raiblah spanduk-spanduk itu kini…Padahal, 2022 itu dua belas tahun lagi lho, bukan tiga atau empat tahun…</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-157" title="Maket Gelora BK-edit" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/Maket-Gelora-BK-edit-255x300.jpg" alt="Maket Gelora BK-edit" width="255" height="300" />Tahun 1962 Bung Karno menyatakan akan  mengadakan Olimpiade tandingan. Ceritanya, pada Asian Games 1962 di Jakarta, Indonesia melarang keikutsertaan Taiwan dan Israel. Pelarangan keduanya karena solidaritas. Yang satu solider dengan Cina, karena saat itu poros kita memang Jakarta-Peking dan Cina masih bermasalah dengan status kedaulatan Taiwan, bahkan sampai sekarang. Pelarangan Israel, jelas karena solidaritas kita pada Palestina. Rupanya, pelarangan ini diprotes oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). IOC mempertanyakan legitimasi Asian Games di  Jakarta itu. Bahkan Federasi Asian Games yang diketuai IOC juga menskors Indonesia untuk tidak dapat mengikuti Olimpiade karena kedua Negara tersebut,kata IOC, anggota resmi PBB. Tentu kita tahu sikap tegas Bung Besar ini. Ia tak bisa dilarang dan diancam begitu saja, apalagi jika menyangkut martabat negeri yang ia perjuangkan sejak muda ini. Ia marah dan memutuskan Indonesia keluar dari IOC dan menuduhnya sebagai antek imperialisme. Tidak hanya itu, Sukarno pun memutuskan akan membuat Olimpiade tandingan dengan nama GANEFO<em> (Games of The New Emerging Forces)</em>.  Untuk memujudkannya, dibangunlah Stadion Senayan &#8211; yang kini bernama gelora Bung Karno &#8211; yang konon saat itu dibangun dengan konstruksi atap sarang burung  termaju di jamannya. Arsitek dan insyurnya, dibantu Uni Sovyet yang kini sudah almarhum. Dananya diambil dari retribusi rakyat. Dari mulai parkir, tiket bioskop dan lain-lain. Bersamaan waktunya, dibangun pula Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi serta pelebaran Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Moh Thamrin dan Jalan Jenderal Gatot Subroto. Akhirnya mimpi besar Soekarno untuk sejajar dengan bangsa-bangsa barat kolonialis terwujud. GANEFO terselenggara dengan sukses di akhir tahun 1963  yang diikuti 2200 atlit dari 48 negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dengan diliput sekitar 450 wartawan asing. Memang GANEFO diboikot negara-negara barat. Tak ada berita Ganefo disana, tapi saat itu Indonesia memang banyak teman, dihormati kawan dan jadinya memang disegani lawan, sehingga kecuali negara-negara barat, saat itu Ganefo menjadi <em>news of the world</em>.  Dengan mengusung semboyan Maju Terus Pantang Mundur  ! <em>(Onward, No Retreat !)</em>, GANEFO sukses besar. Saya yang lahir dari generasi 70-an masih ingat, begitu masyhurnya GANEFO ini, bahkan salah satu guru SMP saya, di sebuah sekolah di kecamatan kecil, memiliki nama akhir yang terinspirasi dari nama games dunia made in Indonesia ini. Tentu saja yang huruf “ o” diganti “ i ”, karena ia seorang ibu guru. Luar biasa.</p>
<p>Sayangnya, kondisi politik Indonesia, akhirnya membuat rencana pelaksanaan GANEFO ke-2 di tahun 1967 di Kairo, Mesir dibatalkan.</p>
<p>***</p>
<p>Betul kata Bung Karno, pada akhirnya olah raga memang tak bisa dipisahkan dari politik. Hitler pada Olimpiade Berlin 1936, ketika supremasi bangsa Aria jadi ideologi tak mau menjabat tangan Jesse Owen sang pelari pemenang dari Amerika Serkat yang berkulit hitam yang mengalahkan atlit Jerman. Olimpiade Munich 1976, bahkan diwarnai penculikan dengan latar belakang konflik Palestina &#8211; Israel. Jadi, jika olah raga juga politik, mestinya pemerintah kita tak perlu ragu-ragu mendukung gagasan Piala Dunia Indonesia di tahun 2022. Justru pencanangan ini akan membuat  kita terpacu, fokus dan mati-matian membuktikan bahwa Indonesia bisa bikin even bola dunia, bukan cuma bisa kirim TKI dunia atau malah masyhur karena video artis yang syur. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sunguh, akan berhasil.</p>
<p>Ah, itu kan kalau kita bukan bangsa tempe. Wallahu’alam.</p>
<p>JANUAR SETYO WIDODO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2010/06/world-cup-2010-dan-ganefo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekali Lagi Tentang Facebook</title>
		<link>http://januarsw.com/2010/06/sekali-lagi-tentang-facebook/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2010/06/sekali-lagi-tentang-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 12:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Tak terasa, sudah setahun lebih saya tak menulis. Waktu yang sangat lama untuk sebuah aktifitas blog. Meski sebenarnya, berkata-kata pun, ya menulis juga. Tapi ia verbal, tak dicatat dan bisa-bisa bikin keseleo si pemilik kata-kata kalau tak hati-hati. Kalau menulis, masih ada waktu sebelum tombol-tombol komputer kita ketik.
Baiklah, saya setuju bahwa menulis memang tidak mudah meskipun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-105" title="facebook1" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/04/facebook1.jpeg" alt="facebook1" width="150" height="56" />Tak terasa, sudah setahun lebih saya tak menulis. Waktu yang sangat lama untuk sebuah aktifitas blog. Meski sebenarnya, berkata-kata pun, ya menulis juga. Tapi ia verbal, tak dicatat dan bisa-bisa bikin keseleo si pemilik kata-kata kalau tak hati-hati. Kalau menulis, masih ada waktu sebelum tombol-tombol komputer kita ketik.</p>
<p>Baiklah, saya setuju bahwa menulis memang tidak mudah meskipun tidak sulit juga. Ada ungkapan yang menarik jika mau menulis. Begini, mulailah menulis dengan hati, dan akhiri dengan pikiran.</p>
<p>Saya rasa ungkapan – yang saya lupa dari mana – itu memang tepat. Menggambarkan bagaimana sebuah tulisan harus mulai dirangkai. Nah, yang di hati saya saat ini adalah keprihatinan mendalam munculnya rekaman video dewasa yang melibatkan dua selebriti papan atas negeri ini yang konon dimulai disebarkan dari situs jejaring sosial paling beken, Facebook. Tak hanya itu. Pembahasannya yang berhari-hari dan memakan slot cukup banyak di segmen Infotainment, seringkali membuat saya harus memindahnya ketika si kecil buah hatiku tiba-tiba ikut menonton. Ah, ada-ada saja dunia hiburan Indonesia…</p>
<p>Lantas, adakah cara atau tip yang baik menggunakan Facebook ?</p>
<p>Berdasarkan pengalaman menggunakan situs jejaring sosial Facebook selama ini, beberapa hal yang saya catat perlu disadari dan dipersiapkan ketika bergabung di dalamnya adalah :</p>
<ol>
<li> <strong><em>Open Mind</em></strong>. Berpikirlah secara terbuka di sebuah situs jejaring sosial. Artinya, bersiaplah menghadapi situasi apapun karena sebuah komentar, foto, maupun video yang didalamnya melibatkan kita. Sadarilah bahwa Facebook sebenarnya sebuah ‘comment market’ alias pasar pendapat dari beragam orang dengan berbagai latar belakang yang mereka miliki. Makin banyak teman, tentu makin banyak komentar yang akan timbul. Tak perlu marah atau tersinggung terhadap sebuah komentar, tapi tak perlu ragu menggunakan fasilitas remove (buang) jika sebuah komentar benar-benar tak layak ditampilkan. Sebagaimana mereka berhak berkomentar, kitapun berhak pula membatalkan komentar mereka.</li>
<li><strong><em>Keep Your Style</em></strong>. Jagalah style anda secara konsisten, baik di dunia nyata (<em>off line</em>) maupun di dunia maya (<em>on line</em>). Menjaga style, bukan berarti menjaga imaji (bahasa pertemanan, jaim atau jaga image), berpura-pura ataupun menipu orang lain. Itu hal yang sama sekali berbeda. Menjaga style pada dasarnya memperkuat karakter kita. Terkadang, dunia jejaring sosial menjadi pelarian kita, namun lebih baik jika tetap berpandangan bahwa jejaring sosial tetaplah memiliki standar etika tertentu. Tiap orang akhirnya bisa menilai kita.</li>
<li><strong><em>Make Your Goal</em></strong>. Tetapkan tujuan berjejaring sosial. Ketika kita sudah menetapkan untuk apa kita memiliki sebuah akun pertemanan, maka poin pertama dan kedua diatas, makin relevan. Karena sebuah akun yang dibuat semata-mata untuk mengikuti trend, tentu berbeda jika dimaksudkan untuk bersilaturahmi alias melanjutkan pertemanan, persahabatan ataupun bahkan untuk tujuan bisnis. Atau tujuan politik sekalipun. Apalagi, jika dihubungkan dengan kasus video dewasa baru-baru ini, jelas akun Facebook yang dibuat memang hanya bertujuan khusus untuk ‘membunuh karakter’ kedua selebriti tersebut. Karena tak lama setelah kasus itu meledak di media utama (mainstream media), akun tersebut tak pernah terlihat dirawat.</li>
<li><strong><em>Maintain It</em></strong>. Terakhir, sesibuk apa pun atau sebaliknya, selonggar apa pun waktu kita, tetaplah rawat akun yang kita miliki. Seperti kebun bunga, jika sudah terlalu banyak rumput liar dan bahkan hama, segera lakukan perawatan secukupnya jikalau tak mau menjadikan kebun bunga dan ilalang bercampur. Karena itu, meng-<em>up date</em> status dan memberi komentar secukupnya juga bagian paling sederhana merawat akun kita. Meski tak perlu juga memaksa menulis sebuah status ataupun berkomentar jika memang tak perlu atau tak siap menulis sebuah status atau komentar. Atau, bisa juga mulai melakukan seleksi pada ‘teman-teman maya’ kita jika dirasakan memang perlu.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Sedikit catatan diatas, akan mengawali kembali aktifitas menulis saya.</p>
<p> </p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p> </p>
<p>JANUAR SETYO WIDODO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2010/06/sekali-lagi-tentang-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sisi Gelap Facebook</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/04/sisi-gelap-facebook/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/04/sisi-gelap-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 18:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Telco]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Friedman]]></category>
		<category><![CDATA[Zuckerberg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Dunia benar-benar makin mengecil, datar dan berada dalam &#8216;genggaman&#8217; kita tanpa batas apa pun. Hadirnya salah satu situs jejaring sosial (social networking web) terpopuler saat ini, Facebook, kian memperkuat tesis Friedman dalam buku populernya, The World is flat (dunia yang datar) karya Thomas L. Friedman. Sejak Februari 2009 Facebook yang membuat penciptanya, Mark Zuckerberg, menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-full wp-image-105" style="margin: 1px 4px;" title="facebook1" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/04/facebook1.jpeg" alt="facebook1" width="150" height="56" />Dunia benar-benar makin mengecil, datar dan berada dalam &#8216;genggaman&#8217; kita tanpa batas apa pun. Hadirnya salah satu situs jejaring sosial (<em>social networking web</em>) terpopuler saat ini, Facebook, kian memperkuat tesis Friedman dalam buku populernya, <em>The World is flat </em>(dunia yang datar) karya Thomas L. Friedman. Sejak Februari 2009 Facebook yang membuat penciptanya, Mark Zuckerberg, menjadi milioner termuda yang masuk <em>Fortune 400</em> di AS tercatat telah memiliki 150 juta pemilik akun. Melampaui situs sejenis pendahulunya seperti MySpace, Friendster,  Orkut, hi5 dan lainnya.<span id="more-101"></span></p>
<p>Saya memutuskan untuk bergabung dengan Facebook 14 Februari lalu, setelah beberapa kali mendapat undangan beberapa rekan. Ini adalah pengalaman pertama saya memanfaatkan situs jejaring sosial dan kemudian memiliki akunnya. Facebook, sebagaimana sering diceritakan memang layak diminati. Selain memiliki banyak aplikasi menarik, satu hal yang kemudian menjadi nilai lebih dibanding situs jejaring sosial adalah kultur yang dibangun Facebook dengan keaslian identitas pemilik akun. Meski di dunia <em>cyber</em>, keaslian identitas bisa saja masih bisa dipertanyakan, tapi hal ini masih dijaga oleh tim pengembang Facebook dan tentu saja komunitas pengguna Facebook. Tak heran, beberapa pemilik akun Facebook adalah birokrat, tokoh masyarakat, politisi dan tentu saja para selebritas. Sepanjang pengalaman saya sampai dengan saat ini, kultur yang dibangun Facebook dengan keaslian identitas pemilik akun, benar-benar membawa kepada pengalaman baru. Saya misalnya, &#8216;bertemu&#8217; kembali dengan rekan satu SD yang sudah tidak bertemu semenjak 25 tahun lalu. Yang nampaknya nyaris mustahil terjadi tanpa bantuan Facebook dengan kultur keaslian identitas yang dimilikinya. Belum lagi, kelengkapan identitas itu bisa diperkuat dengan isian info dan profil pemilik akun yang dilengkapi sederet foto pengingat. Begitulah, selapis demi selapis, tumpukan memori yang terjadi bertahun-tahun lalu yang menempel pada diri kita dan kawan-kawan di setiap tingkatan komunitas ataupun lingkungan yang pernah kita lalui hingga detik ini, hadir kembali bagai film <em>flashback</em> yang diputar pelan-pelan mundur ke belakang. Keceriaan masa SMA, kenangan-kenangan lucu di masa SD maupun cerita-cerita konyol ketika mahasiswa, mengalir begitu saja seketika pada saat rekan &#8216;masa lalu&#8217; kita itu memuat foto jaman dulu (jadul) yang ketika itu kita masih &#8216;bocah dan culun&#8217; plus komentar-komentar pelengkap penderitanya. Nampaknya, putaran waktu ke belakang dengan segala aksesoris yang menempel inilah sebenarnya yang menjadi keasyikan tersendiri bagi pemilik akun Facebook.</p>
<p>Facebook memang menciptakan fenomena. Namun sebagaimana sifat komplementer alam semesta : ada proton (unsur atom bermuatan positif), ada pula elektron (unsur atom bermuatan negatif). Facebook juga memiliki sisi gelap, untuk tidak disebut sebagai sisi buruk.</p>
<p>Beberapa hal yang bisa saya catat sebagai sisi yang perlu diwaspadai adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li><em>Broadcast effect</em> : fasilitas <em>wall</em> yang dimiliki Facebook memungkinkan tiap orang yang telah berteman membaca dialog yang kita lakukan di <em>wall</em>. Sebagaimana tiap orang bisa membaca apa pun yang tertulis di sebuah tembok (<em>wall</em>) yang kita lewati. Bagi sebagian orang, ini bisa menciptakan kondisi seperti &#8216;kuping dan mata Superman&#8217;, apapun yang ditulis dan dibicarakan, seketika sampai kepada seluruh kawan yang ada. Cara terbaik memanfaatkan <em>wall</em> adalah mempelajari <em>privacy setting</em>. Ada yang menutup sama sekali fasilitas <em>wall</em>, tapi ada juga yang hanya membuka bagi yang menulis, namun jawaban kita sebagai pemilik akun, tak ditampilkan. Untungnya Facebook masih menyediakan fasilitas <em>message</em> yang masih menjaga percakapan hanya terjadi diantara pengguna <em>message</em>. Persis seperti fasilitas e-mail yang kita miliki.</li>
<li><em>Self-Explore effect</em> : tak dapat dipungkiri, Facebook pada akhirnya menjadi etalase pribadi paling efektif. Dalam bahasa pertemanan, Facebook bisa menjadi tempat menampilkan citra kesempurnaan diri bahkan sampai tingkat yang sangat detil dan sempurna (<em>narcism</em>) utamanya melalui rangkaian foto-foto yang melengkapi profile pemilik akun. Bagi yang menyadari <em>narcism</em> sulit dilakukan di dunia <em>off-line</em> (baca : dunia nyata), Facebook-lah tempatnya. Namun, bisa jadi malah sebaliknya bahwa bahkan di dunia <em>online</em> pun seseorang ternyata tidak juga bisa &#8216;memperbaiki citra diri&#8217; mereka. Artinya, tetap saja humor dan lelucon yang sering dilakukan secara <em>off-line</em>, tetap mengikutinya di dunia <em>online</em> juga. Sah-sah saja. Karena akun Facebook adalah milik anda sendiri, maka andalah sutradara sekaligus investornya. Saran terbaik adalah tetap menjadi diri sendiri.</li>
<li><em>Addiction effect</em> : sulit mengingkari bahwa Facebook dengan segala fasilitasnya bisa menjadikan pemilik akun ketagihan. Sering kita baca ulasan di media bagaimana seorang pemilik akun Facebook begitu ketagihan, karena akhirnya dimanapun ia berada maka koneksi Facebook menjadi perhatiannya dari mulai berangkat kantor, di jalan, di kantor bahkan sampai kembali ke rumah. Pusat perhatiannya adalah Facebook. Dalam beberapa hal mungkin ini bisa mempengaruhi produktifitas kita. Bahkan penggunaan perangkat tertentu yang dengan cerdik memanfaatkan koneksitas antara lain dengan Facebook ini, bisa-bisa menciptakan autisme sosial : dimana saja, kapan saja asyik memainkan jemarinya hingga tanpa sadar lift yang ia tumpangi telah menyisakan ia seorang diri. Sebuah video kiriman rekan di Facebook saya berisi puisi sang anak tentang ibunya yang tiba-tiba mengidap &#8216;autisme&#8217; setelah mengenal Facebook, bahkan sampai diibaratkan sang ibu akan membawa laptopnya ke surga karena tak mau kehilangan kontak dengan Facebook. Facebook memang mendekatkan yang jauh, tapi terkadang menjauhkan yang sudah dekat.</li>
<li><em>Intelligence effect</em> : dengan berbagai kemudahan mendapatkan informasi, Facebook memang bisa menjadi &#8216;agen rahasia&#8217; bagi orang lain. Itulah yang kemudian memunculkan cerita sendu (bahkan seram) para pemilik akun : pasangan yang bercerai karena pengingkaran status, pembunuhan pasangan gay karena cemburu (terjadi di Bandung), dan lain-lain. Buku <em>Step by Step Facebook</em> karya Sartika Kurniali mencatat beberapa kasus nyata yang terjadi sebagai akibat penggunaan Facebook. Karena itu banyaknya teman &#8216;maya&#8217; yang dihimpun bukanlah sebuah ukuran. Saran terbaik memang tetap selektif melakukan proses <em>add friend</em> maupun <em>confirm friend</em>.</li>
</ol>
<p>Namun Facebook adalah alat, bukan tujuan. Tetaplah pemilik akun sebagai <em>man behind the gun</em>. Semua tergantung pemilik akunnya. Sangat banyak hal positif yang ditawarkan Facebook jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Grup diskusi yang membahas tema tertentu, petisi (<em>cause</em>) yang melakukan aksi terhadap sebuah isu, <em>pages</em> yang dibuat khusus pengguna Facebook yang berisi informasi lengkap sebuah topik (tokoh, institusi, hobi, dan lain-lain) untuk memperkaya wawasan, kuis yang terkadang sangat menghibur di tengah rutinitas pekerjaan dan tentu saja media silaturahmi yang sangat murah dengan para kolega.</p>
<p>Jadi mau narsis, mau serius, mau biasa-biasa saja ataupun mau kampanye, monggo saja. Kata sebuah iklan, &#8216;<em>enjoy aja</em>&#8230;&#8217; ***</p>
<p>JANUAR SETYO WIDODO</p>
<p><!--st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --><!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;}  ></p>
<p><! [endif] ></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;" mce_style="text-align: left;">Oleh JANUAR SETYO WIDODO</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><img class="alignleft size-full wp-image-102" title="facebook" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/04/facebook.jpeg" mce_src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/04/facebook.jpeg" alt="facebook" width="150" height="56" />Dunia benar-benar makin mengecil, datar dan berada dalam ‘genggaman’ kita. Hadirnya salah satu situs jejaring sosial (social networking web) terpopuler saat ini, Facebook, kian memperkuat tesis Friedman dalam buku populernya, <i>The World is fl</i><i>at </i>(dunia yang datar) karya Thomas L. Friedman. Sejak Februari 2009 Facebook yang telah membuat penciptanya Mark Zucberkerg menjadi miliarder termuda yang masuk <i>Fortune 400</i> di AS ini kini tercatat telah memiliki 150 juta pemilik akun.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Apa yang tuliskan Friedman memang terjadi. Saya memutuskan untuk bergabung dengan Facebook 14 Februari lalu, setelah beberapa kali mendapat undangan beberapa rekan. Ini adalah pengalaman pertama saya memanfaatkan situs jejaring sosial dan kemudian memiliki akunnya. Facebook, sebagaimana sering diceritakan memang layak diminati. Selain memiliki banyak aplikasi menarik, satu hal yang kemudian menjadi nilai lebih dibanding situs jejaring sosial adalah kultur yang dibangun Facebook dengan keaslian identitas pemilik akun. Meski di dunia cyber, keaslian identitas bisa saja masih bisa dipertanyakan, tapi hal ini masih dijaga oleh tim pengembang Facebook dan tentu saja komunitas pengguna facebook. Sepanjang pengalaman penulis sampai dengan saat ini, kultur yang dibangun Facebook dengan keaslian identitas pemilik akun, benar-benar membawa kepada pengalaman baru. Penulis misalnya ‘bertemu’ kembali dengan rekan satu SD yang sudah tidak bertemu semenjak 25 tahun lalu. Yang nampaknya nyaris mustahil terjadi tanpa bantuan Facebook dengan kultur keaslian identitas yang dimilikinya. Belum lagi, kelengkapan identitas itu bisa diperkuat dengan isian info dan profil pemilik akun yang dilengkapi sederet foto pengingat. Begitulah, selapis demi selapis, tumpukan memori yang terjadi bertahun-tahun lalu yang menempel pada diri kita dan kawan-kawan di setiap tingkatan komunitas ataupun lingkungan yang pernah kita lalui hingga detik ini, hadir kembali bagai film <i>flashback</i> yang diputar pelan-pelan mundur ke belakang. Keceriaan masa SMA, kenangan-kenangan lucu di masa SD maupun cerita-cerita konyol ketika mahasiswa, mengalir begitu saja seketika pada saat rekan ‘masa lalu’ kita itu memuat foto jaman dulu (jadul) yang ketika itu kita masih ‘bocah dan culun’ plus komentar-komentar pelengkap penderitanya. Nampaknya, putaran waktu ke belakang dengan segala aksesoris yang menempel inilah sebenarnya yang menjadi keasyikan tersendiri bagi pemilik akun Facebook.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Facebook memang menciptakan fenomena. Namun sebagaimana sifat komplementer alam semesta : ada proton (unsur atom bermuatan positif), ada pula elektron (unsur atom bermuatan negatif). Facebook juga memiliki sisi gelap, untuk tidak disebut sebagai sisi buruk.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Beberapa hal yang bisa saya catat sebagai sisi yang perlu diwaspadai adalah sebagai berikut :</p>
<p class="MsoNormal">
<ol style="margin-top: 0in;" mce_style="margin-top: 0in;" type="1">
<li class="MsoNormal"><i>Broadcast effect</i> : fasilitas <i>wall</i> yang dimiliki Facebook      memungkinkan tiap orang yang telah berteman membaca dialog yang kita      lakukan di <i>wall</i>. Sebagaimana      tiap orang bisa membaca apa pun yang tertulis di sebuah tembok (<i>wall</i>) yang kita lewati. Bagi      sebagian orang, ini bisa menciptakan kondisi seperti ‘kuping dan mata      Superman’, apapun yang ditulis dan dibicarakan, seketika sampai kepada      seluruh kawan yang ada. Cara terbaik memanfaatkan <i>wall</i> adalah mempelajari <i>privacy      setting</i>. Ada      yang menutup sama sekali fasilitas <i>wall</i>,      tapi ada juga yang hanya membuka bagi yang menulis, namun jawaban kita sebagai      pemilik akun, tak ditampilkan. Untungnya Facebook masih menyediakan      fasilitas <i>message</i> yang masih      menjaga percakapan hanya terjadi diantara pengguna <i>message</i>. Persis seperti fasilitas e-mail yang kita miliki.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: left;" mce_style="margin-left: 0.25in; text-align: left;">
<ol style="margin-top: 0in; text-align: left;" mce_style="margin-top: 0in; text-align: left;" type="1">
<li class="MsoNormal"><i>Self-Explore effect</i> : tak dapat      dipungkiri, Facebook pada akhirnya menjadi etalase pribadi paling efektif.      Dalam bahasa pertemanan, Facebook bisa menjadi tempat menampilkan citra      kesempurnaan diri bahkan sampai tingkat yang sangat detil dan sempurna (<i>narcism</i>) utamanya melalui rangkaian      foto-foto yang melengkapi profile pemilik akun. Bagi yang menyadari <i>narcism</i> sulit dilakukan di dunia <i>off-line</i> (baca : dunia nyata),      Facebook-lah tempatnya. Namun, bisa jadi malah sebaliknya bahwa bahkan di      dunia <i>online</i> pun seseorang      ternyata tidak juga bisa ‘memperbaiki citra diri’ mereka. Artinya, tetap      saja humor dan lelucon yang sering dilakukan secara <i>offline</i>, tetap mengikutinya di dunia <i>online</i> juga. Sah-sah saja. Karena akun Facebook adalah milik      anda sendiri, maka andalah sutradara sekaligus investornya. Saran terbaik      adalah tetap menjadi diri sendiri.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;" mce_style="text-align: left;">
<ol style="margin-top: 0in; text-align: left;" mce_style="margin-top: 0in; text-align: left;" type="1">
<li class="MsoNormal"><i>Addiction effect</i> : sulit      mengingkari bahwa Facebook dengan segala fasilitasnya bisa menjadikan      pemilik akun ketagihan. Sering kita baca ulasan di media bagaimana seorang      pemilik akun Facebook begitu ketagihan, karena akhirnya dimanapun ia      berada maka koneksi Facebook menjadi perhatiannya dari mulai berangkat      kantor, di jalan, di kantor bahkan sampai kembali ke rumah. Pusat      perhatiannya adalah Facebook. Dalam beberapa hal mungkin ini bisa      mempengaruhi produktifitas kita. Bahkan penggunaan perangkat tertentu yang      dengan cerdik memanfaatkan koneksitas antara lain dengan Facebook ini,      bisa-bisa menciptakan autisme sosial : dimana saja, kapan saja asyik      memainkan jemarinya hingga tanpa sadar lift yang ia tumpangi telah menyisakan      ia seorang diri. Sebuah video kiriman rekan di Facebook saya berisi puisi      sang anak tentang ibunya yang tiba-tiba mengidap ‘autisme’ setelah      mengenal Facebook, bahkan sampai diibaratkan sang ibu akan membawa      laptopnya ke surga karena tak mau kehilangan kontak dengan Facebook.      Facebook memang mendekatkan yang jauh, tapi terkadang menjauhkan yang      sudah dekat.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;" mce_style="text-align: left;">
<ol style="margin-top: 0in; text-align: left;" mce_style="margin-top: 0in; text-align: left;" type="1">
<li class="MsoNormal"><i>Intelligence</i><i> effect</i> : dengan      berbagai kemudahan mendapatkan informasi, Facebook memang bisa menjadi      ‘agen rahasia’ bagi orang lain. Itulah yang kemudian memunculkan cerita      sendu (bahkan seram) para pemilik akun : pasangan yang bercerai karena      pengingkaran status, pembunuhan pasangan gay karena cemburu (terjadi di Bandung), dan      lain-lain. Buku <i>Step by Step      Facebook</i> karya Sartika Kurniali mencatat beberapa kasus nyata yang      terjadi sebagai akibat penggunaan facebook. Karena itu banyaknya teman      ‘maya’ yang dihimpun bukanlah sebuah ukuran. Saran terbaik memang tetap      selektif melakukan proses <i>add friend</i> maupun <i>confirm friend</i>.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Namun Facebook adalah alat, bukan tujuan. <span lang="DE">Tetaplah pemilik akun sebagai <i>man behind the gun</i>. </span>Semua tergantung pemilik akunnya. Sangat banyak hal positif yang ditawarkan Facebook seperti jika kita bisa memanfaatkannya. Grup diskusi yang membahas tema tertentu, petisi (<i>cause</i>) yang melakukan aksi terhadap sebuah isu, <i>pages</i> <span> </span>yang dibuat khusus pengguna Facebook yang berisi informasi lengkap sebuah topik (tokoh, institusi, hobi, dan lain-lain), kuis yang terkadang sangat menghibur di tengah rutinitas pekerjaan <span> </span>bisa untuk memperkaya wawasan dan tentu saja media silaturahmi yang sangat murah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Jadi mau narsis, mau serius, mau biasa-biasa saja ataupun mau kampanye, monggo saja. Kata sebuah iklan, ‘<i>enjoy aja</i>…’***< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< >< ><--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/04/sisi-gelap-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harapan Untuk BRTI Baru</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/02/harapan-untuk-brti-baru/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/02/harapan-untuk-brti-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 23:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Telco]]></category>
		<category><![CDATA[brti]]></category>
		<category><![CDATA[krt]]></category>
		<category><![CDATA[sktt]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[
Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang baru telah diumumkan (Bisnis Indonesia, 5 Februari 2009). Satu anggota muka lama, keempat lainnya baru serta berlatar akademis. Kelimanya mewakili masyarakat dan bersama satu orang wakil Pemerintah akan membentuk Komite Regulasi Telekomunikasi (KRT). KRT ini bersama Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi menjadi BRTI. Badan yang akan tetap diketuai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: normal; font-family: Times New Roman;"><img class="alignleft size-full wp-image-90" title="logo-brti" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/02/logo-brti.png" alt="logo-brti" width="144" height="99" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang baru telah diumumkan (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Bisnis Indonesia</em>,<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>5 Februari 2009). Satu anggota muka lama, keempat lainnya baru serta berlatar akademis. Kelimanya mewakili masyarakat dan bersama satu orang wakil Pemerintah akan membentuk Komite Regulasi Telekomunikasi (KRT). KRT ini bersama Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi menjadi BRTI. <span id="more-89"></span>Badan yang akan tetap diketuai Pemerintah yaitu Dirjen Postel ini, diharapkan mampu memberi semangat baru penyelenggaraan industri telekomunikasi saat ini.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Dengan pasar yang masih besar dan menjanjikan, peran BRTI tentu menjadi sangat penting terkait dengan berbagai persoalan yang akan timbul di industri telekomunikasi. BRTI yang lalu telah memberikan sumbangsihnya, meski belum optimal. Karena masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang mesti dibereskan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">BRTI pertama kali dibentuk melalui Keputusan Menteri (KM) Menteri Perhubungan No. KM. 31 Tahun 2003. Di dalam KM ini disebutkan bahwa maksud ditetapkannya BRTI adalah untuk lebih menjamin adanya transparansi, independensi dan prinsip keadilan dalam penyelenggaraan jaringan telekomunikasi baik dalam fungsi pengaturan, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan jaringan telekomunikasi dan penyelenggaraan jasa telekomunikasi. Fungsi pengaturan meliputi penyusunan dan penetapan ketentuan penyelenggaraan jaringan dan jasa telekomunikasi meliputi perijinan, standar kinerja operasi, standar kualitas layanan, biaya interkoneksi dan standar alat dan perangkat telekomunikasi. Untuk fungsi pengawasan, BRTI diberi kewenangan perihal kinerja operasi (pada suatu operator), persaingan usaha serta penggunaan alat dan perangkat telekomunikasi. Pada fungsi pengendalian antara lain penyelesaian perselisihan antar penyelenggara jaringan dan jasa telekomunikasi, penggunaan alat dan perangkat telekomunikasi serta penerapan standar kualitas layanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Fungsi pengaturan, pengawasan dan pengendalian ini kian penting mengingat pasar telekomunikasi telah diramaikan oleh operator jaringan tetap maupun bergerak lebih dari sepuluh operator. Sebuah perkembangan yang luar biasa pesat dibandingkan pada saat KM tersebut pertama kali dikeluarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Peran yang masih kuat disorot oleh operator adalah mampukah BRTI menjadi wasit bagi berbagai kemungkinan permasalahan yang bakal timbul. Sebagai wasit, tentunya BRTI harus netral namun tegas. Peran netral ini masih menjadi sorotan mengingat keberadaan Pemerintah melalui Dirjen Postel yang <em style="mso-bidi-font-style: normal;">ex officio</em> menjadi Ketua BRTI sehingga hanya menjadi kepanjangan tangan kepentingan Pemerintah. Jika ditarik dari filosofi pendiriannya, memang BRTI juga diharapkan menjadi semacam lembaga penyelesaian konflik (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">dispute tribunal</em>) karena itu unsur pembentuknya pun kombinasi dari unsur pemerintah dan masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Dengan kondisi pasar telekomunikasi Indonesia yang multi operator, akibat langsung kompetisi yang sengit tentu membuat BRTI kerap pula bersinggungan peran dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Mana yang menjadi ranah BRTI, mana yang menjadi ranah KPPU pada suatu konflik yang terkait dengan kegiatan usaha, terkadang menjadi tumpang tindih. Sebagaimana kasus kepemilikan Qatar Telcom pada Indosat beberapa lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">BRTI jelas bukan lembaga peradilan. Namun peran pengendalian yang diembannya mau tidak mau dapat membawa BRTI kepada fungsi seperti ini. Sebagaimana Di India, misalnya, konflik yang terjadi antara pelanggan dengan operator, antar operator dan antara operator dan pemerintah diselesaikan melalui semacam lembaga penyelesaian <em style="mso-bidi-font-style: normal;">dispute</em> atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Telecom Dispute Settlement and Appellate Tribunal (TDSAT)</em> meski sudah ada lembaga semacam BRTI yaitu TRAI (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">The Telecommunication Regulatory Authority of India</em>).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Tantangan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Industri telekomunikasi Indonesia belum memasuki fase jenuh. Data Dirjen Postel menunjukkan bahwa pada Juni 2008 lalu, pasar ritel telekomunikasi Indonesia terdiri dari total pelanggan PSTN (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Public Switch Telephone Network</em>) atau telepon rumah sebanyak 8,7 juta total pelanggan jaringan bergerak terbatas atau FWA (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Fixed Wireless Access</em>) 12,7 juta, dan pelanggan seluler sebesar 134,6 juta. Jika kesemuanya dihitung untuk melihat teledensitasnya, maka berturut-turut teledensitasnya adalah 3,86% untuk PSTN, 5,64 % untuk FWA dan 50,34% untuk seluler dengan proyeksi jumlah penduduk di tahun 2007 oleh BPS sebesar 224,9 juta orang. Pelaku industri telekomunikasi selain para operator adalah vendor terminal, perangkat data komunikasi atau CPE (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Customer Premises Equipment</em>), penyedia isi (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">content provider</em>) serta penyedia infrastruktur telekomunikasi. Berdasarkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Financial Statement</em> yang sudah dipublikasikan, kita dapat memperkirakan berapa besarkah uang yang berputar di industri telekomunikasi Indonesia saaat ini. Pada triwulan ke-3 2008 lalu total Pendapatan Usaha (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Operating Revenue</em>) 5 operator besar (Telkom Group, Indosat, Excelcom, Mobile-8 dan Bakrie Telecom) adalah sebesar kurang lebih Rp 69,42 triliun. Jumlah uang ini akan lebih besar lagi jika menghitung industri pendukungnya seperti uang hasil penjualan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">content </em>Ring Back Tone yang ternyata merupakan pendapatan yang justru lebih besar bagi artis pemilik lagu jika dibandingkan hasil penjualan album mereka. Hal-hal diatas adalah tantangan bagi para anggota BRTI yang baru dalam mengembangkan industri telekomunikasi ke depan. Meski krisis keuangan global masih menghantui, namun industri telekomunikasi relatif masih bisa bertahan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Harapan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Latar belakang anggota baru KRT yang kesemuanya akademis, tidak mengurangi keyakinan kita bahwa tugas-tugas besar kedepan menjaga dinamika industri telekomunikasi diatas akan tetap dapat dijalankan. Juga, adaptasi dengan berbagai persoalan teknis dan operasional yang dihadapi para pelaku industri akan mampu segera diikuti para anggota baru BRTI tersebut. Ke depan, persoalan seperti perobohan menara di Kabupaten Badung, Bali oleh Pemda Badung beberapa waktu lalu dengan alasan mereka telah memiliki perjanjian kerja sama dengan sebuah provider menara, bukan tidak mungkin akan terjadi di daerah lain atas nama kebijakan otonomi daerah. BRTI baru ini juga digantungi harapan agar regulasi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) akan makin adaptif dan sesuai dengan perkembangan mutakhir teknologi telekomunikasi yang makin konvergen dengan teknologi informasi. Juga pengawalan antara lain terhadap kebujakan Sistem Kliring Trafik Telekomunikasi (SKTT), kebijakan televisi digital, WiMAX dan terpenting adalah terjaganya kualitas layanan merupakan hal-hal yang diharapkan menjadi perhatian serius. Harapan lainnya adalah bagaimanapun para anggota KRT harus tetap mampu menjaga independensi meski Ketua-nya adalah Pemerintah. Sehingga tetap mampu mengambil keputusan dengan kualitas profesional terbaik demi kepentingan masyarakat luas yang diwakilinya. Kualitas keputusan yang dihasilkannya, akan menentukan tingkat kepercayaan pelaku industri baik para operator, vendor maupun masyarakat pengguna jasa.***</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/02/harapan-untuk-brti-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The World of Jombang</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/02/the-world-of-jombang/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/02/the-world-of-jombang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 10:13:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[jombang]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[ponari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[

Jombang is back. Begitu komentar saya ketika mengikuti berita ‘bocah ajaib’ Mohamad Ponari alias Ponari alias Ari. Bocah lugu usia 9 tahunan dari Jombang ini kembali ‘membesarkan’ Jombang, ibukota kultural Indonesia. Ditengah kejenuhan dagelan politik antar partai politik yang mengaku besar dan partai politik yang mengaku reformis sekaligus agamis, berita Ponari di awal Pebruari ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"><em><img class="aligncenter size-large wp-image-76" title="icon-jombang" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/02/icon-jombang-1024x193.jpg" alt="icon-jombang" width="655" height="123" /></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"><em>Jombang is back</em>. Begitu komentar saya ketika mengikuti berita ‘bocah ajaib’ Mohamad Ponari alias Ponari alias Ari. Bocah lugu usia 9 tahunan dari Jombang ini kembali ‘membesarkan’ Jombang, ibukota kultural Indonesia. Ditengah kejenuhan dagelan politik antar partai politik yang mengaku besar dan partai politik yang mengaku reformis sekaligus agamis, berita Ponari di awal Pebruari ini adalah berita tentang kenyataan hidup para kebanyakan. <span id="more-75"></span>Ponari, telah menambahkan lagi kekaguman saya pada <em>The World of Jombang</em> karena menghadirkan kerumunan massa dalam jumlah besar untuk ‘<em>ngalap</em> berkah dan kesembuhan’ hasil celupan batu ajaib Ponari. Ponari yang ‘mendadak sakti’ – meminjam judul filmnya Titi Kamal Mendadak Dangdut – diketahui mendapat batu bertuah tersebut ketika sebuah petir menyambar dan melemparkan batu itu ke kepalanya. <span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV">Neneknya menyebut batu itu dengan sebutan ‘<em>watu gledek</em>’ atau batu gledek. </span>Sekarang ‘Puskesmas gaib’ Ponari sudah ditutup, selain karena sudah memakan 4 orang korban antrian, itu juga sudah jadi kesepakatan keluarga, tokoh masyarakat dan pemerintah setempat. Menurut saya, Jombang, sebuah Kabupaten di Jawa Timur, layak disebut sebagai ibukota kebudayaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Coba bayangkan : klan besar Hadratus Syeikh Hasyim Asyhari yang mendirikan pesantren Tebu Ireng dan kemudian mendirikan Nadhatul Ulama (NU) berasal dan wafat di kota itu. Putranya, Wahid Hasyim adalah menteri Agama RI pertama beberapa saat setelah kabinet paska Proklamasi dibentuk. <span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES">Cucunya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, adalah ketua Pengurus Besar NU dua kali, dan Presiden pertama era reformasi. Juga presiden yang paling berhasil mendesakralisasi jabatan publik tertinggi itu dengan kesenimanannya dan guyon-guyon segar yang ada saja. Ayah dan kakek Gus Dur, namanya diabadikan menjadi jalan-jalan besar di kota-kota negeri ini, Jl. Hasyim Ashari dan Jl. Wahid Hasyim. Apakah ada tokoh nasional di Indonesia ini yang anak beranak jadi nama di jalan-jalan besar ? Ini <em>The World of Jombang</em> pertama.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Yang kedua, adalah Nurcholis Madjid. Nurcholis Madjid juga Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dua kali di masa pergolakan 1965. HMI menjadi pintu gerbang perlawanan pemuda Islam ketika PKI dan <em>underbow</em>-nya, nyaris mengubah Indonesia menjadi satelit-nya komunis Cina di Asia Tenggara melalui tangan dingin dan keras<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Dipa Nusantara Aidit yang berorientasi komunis tani. Ketika partai Masyumi sudah dibubarkan, Bung Karno yang sudah dikepung klik komunis, diminta untuk membubarkan HMI. Tapi HMI selamat walafiat sampai kini. Nurcholis menjadi buah bibir ketika tahun 70-an ia melontarkan slogan ”<em>Islam yes, partai No&#8221;</em>. Sebuah slogan yang menolak politisasi Islam yang adi luhung melalui partai politik. Nurcholis kembali menjadi wacana ketika ia mengusung ide sekulerisasi Islam. Wacana yang membangun gagasan agar ide-ide Islam diterima di dunia sekuler ini, disalahpahami menjadi sekularisme atau gagasan pemisahan agama dan negara. Sekulerisasi dicampur aduk dengan sekulerisme. Darma bakti terakhir Nurcholis bagi Indonesia sebelum wafat adalah menjadi Ketua Tim Sebelas, Tim yang memverifikasi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pertama di negeri ’baru’ ini saat tahun reformasi 1998. Berikutnya, adalah Asmuni. Tokoh sentral kelompok dagelan top tahun 80-an (ini dagelan beneran, profesional dan cari uang untuk hidup dari <em>mbanyol</em>, bukan dagelan politik yang <em>ndagel</em> lewat politik untuk cari uang). Bersama Teguh Srimulat, pendiri Srimulat, Asmuni terkenal sebagai tokoh berkumis kotak kecil seperti Hitler. Paradoks yang cerdas. Bermuka Hitler, tapi kocak. Asmuni jadi legenda hidup buat seniman-seniman yuniornya seperti alamarhum Gepeng ’Untung Ada Saya’, almarhum Basuki, Nunung, Mamik Slamet, termasuk Tukul Arwana yang sekarang jadi konglomerat (konglomerat beneran, bukan dagelan). Asmuni sudah wafat meninggalkan <em>tag line</em> terkenalnya, ”<em>Ini adalah hil yang mustahal</em>..”. Itulah <em>The World of Jombang</em> kedua dan ketiga.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Emha Ainun Nadjib, mengisi <em>The World of Jombang</em> berikutnya. Manusia komplit ini, ya budayawan, esais, prosais, seniman, kyai, LSM mandiri, di tahun 80 sampai 90-an benar-benar memberi warna baru bagi sastra Indonesia. Sastra pop yang relijus atau sastra relijius yang pop, menjadi genre tulisan-tulisannya ketika menelaah peristiwa sosial politik dan tautannya. Bersama kelompok musik Kyai Kanjeng<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>- yang dilarang tampil dimana-mana jaman Bakorstanas (Badan Koordinasi Pemantapan dan Stabilitas Nasional) bentukan Orde Baru -, kini Emha mencoba menjadi duta perdamaian dengan keliling dunia membawakan wajah Islam dengan wajah yang <em>soft</em>, moderat, sejuk, damai namun tetap menjunjung tinggi nilai Islam tanpa meninggalkan sisi hiburan melalui akulturasi musik Jawa, Cina, dangdut dan bahkan pop. Emha juga membentuk komunitas pengajian – yang terkenal namanya Padang Mbulan – sebagai dedikasi dia kepada upaya memenuhi kebutuhan spiritual yang mencerdaskan rakyat kebanyakan. Meski mungkin sekarang jarang tampil, kita bisa ketemu dia di buku-bukunya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Giliran berikutnya, adalah Jack The Ripper Very Idham Henyansyah alias Ryan. Pria gay ini membantai setidaknya sebelas orang secara sadis : ada yang dipukul, ada yang dipotong-potong. Bekas guru ngaji yang katanya kalem ini ternyata menyimpan potensi jadi pembunuh kelas dunia kalau akhirnya tidak ketahuan. Sepuluh orang korbannya (salah satunya balita tiga tahun) ditanam tanpa adab di belakang rumahnya, satu orang dimutilasi dan dibuang di suatu tempat di Jakarta. Kini sebelas orang korbannya sudah teridentifikasi dan dikebumikan secara layak sesuai keyakinan mereka masing-masing. Semoga Allah SWT, Tuhan YME menerima mereka di tempat terbaik. Kasus Ryan pun sudah memasuki persidangan. Saat itu, masyarakat umum dan secara khusus kelompok gay di Indonesia, digemparkan dengan terbongkarnya rangkaian pembunuhan sadisnya. Di rumahnya, ketika rekonstruksi dilakukan Polda Jatim, ribuan masyarakat tumplek menyaksikan rumah jagal manusia itu. Seperti hukum ekonomi purba, dimana ada kerumunan terjadilah transaksi bisnis : fotonya dalam berbagai pose laris manis dijual sebagai souvenir. Mungkin souvenir foto itu dibeli untuk menakut-nakuti anak-anak mereka agar tidak nakal.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Yang terakhir (paling tidak sampai saat ini) ya Ponari itu. Jadi lengkaplah <em>The World of Jombang</em> sudah : ada kyai besar, pemikir besar Islam modern, pelawak besar, budayawan besar, pembunuh besar dan dukun besar yang masih kecil. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">***</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Tujuh pusat budaya itu semuanya dari Jombang meski kecamatan atau desanya berbeda-beda. Semuanya dari Jombang dan pernah atau sedang makan dari bumi subur Jombang menuju ’kebesaran’nya masing-masing. Tentu bukan bermaksud menyamakan ’kebesaran’ mereka. Hanya membuat catatan bahwa rasanya masih sulit dicari tandingan rekor yang dibuat Jombang ini di kota atau wilayah lain di Indonesia. Memang di jaman pra kemerdekaan, Bukittinggi adalah gudang intelektual dan tokoh pergerakan. Sebut saja Tan Malaka, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir dan Muhamad Natsir. Cuma ’jenis kebesaran’ mereka sama : intelektual dan penggerak kemerdekaan sehingga susah menjadikan Bukittinggi sebagai ’dunia mini’ yang berwarna-warni dan tidak cuma hitam putih.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Jadi, apakah ini pilihan Tuhan kepada Jombang atau memang Jombang menyediakan potensi orang-orang besar? Silakan berdiskusi. Yang penting, berbanggalah jika anda menjadi orang Jombang karena lahir dan besar di Jombang, dikarenakan anda telah membentuk kebudayaan Indonesia. Boleh juga bangga jika setidaknya masih punya kaitan dengan Jombang karena keluarganya ada di Jombang, temannya orang Jombang, teman dari keponakan temannya orang Jombang, pernah pacaran sama orang Jombang, pernah kerja di Jombang, pernah nyantri di Jombang atau kemarin mampir Jombang karena ikut ngantri di rumah Ponari&#8230;. Jombang memang luar biasa.***</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/02/the-world-of-jombang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulai Dari Mana</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/02/mulai-dari-mana/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/02/mulai-dari-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 10:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Saya akhirnya paham mengapa kita perlu merdeka. Sebagaimana globalisasi versi modern yang menjadi flat (seperti kata Friedman di the World is Flat), dulu ketika masa Perang Dunia II (PD II) pun negara-negara baru bermunculan. Seperti tren mode yang menular dan kemudian menyebar cepat menjadi gaya hidup, sepertinya kelahiran negara-negara baru tersebut juga menjadi tren dunia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/02/proklamasi.png"></a>Saya akhirnya paham mengapa kita perlu merdeka. Sebagaimana globalisasi versi modern yang menjadi flat (seperti kata Friedman di the World is Flat), dulu ketika masa Perang Dunia II (PD II) pun negara-negara baru bermunculan. Seperti tren mode yang menular dan kemudian menyebar cepat menjadi gaya hidup, sepertinya kelahiran negara-negara baru tersebut juga menjadi tren dunia. Utamanya di Asia dan Afrika. Dekat sekali dengan berakhirnya PD II, adalah Republik Indonesia yang <span id="more-72"></span>lahir melalui proklamasi Sukarno-Hatta, 17 Agustus 1945. Setelah itu India di tahun 1948, lalu Cina. Momentum kemerdekaan tersebut pas dengan matangnya perjuangan domestik yang dipimpin para pemimpin negara-negara baru tersebut. Di India ada Gandhi dan Nehru, dan di Cina ada Mao Tze Tung. Semuanya bercita-cita sama : segera menciptakan kesejahteraan kepada rakyat yang selama ini menderita. Syaratnya adalah kemerdekaan. Jadi, kesejahteraanlah tujuan akhirnya. Tujuan akhir ini membutuhkan tujuan antara yaitu ada kemerdekaan politik, ada kemerdekaan ekonomi dan kemerdekaan hukum. Ketiganya, di masa kolonial memang selalu mengacu kepada kebijakan negara kolonialis. Di masa pra kemerdekaan, awal abad 20 memang ada Volksraad alias Dewan Rakyat, tapi bukan seperti Parlemen sekarang yang dipilih bebas tanpa rasa takut oleh rakyat. Anggota-anggotanya &#8211; baik yang orang Belanda apalagi pribumi &#8211; kesemuanya dipilih Pemerintah penjajah. Jadi hakikatnya tak ada kemerdekaan politik. Partai-partai yang tumbuh dari akar rumput dan menjadi wadah perjuangan seperti Syarikat Islam, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Komunis Indonesia (PKI) bukanlah partai-partai yang dibentuk untuk mengikuti Pemilu seperti sekarang ini. Tapi murni wadah perjuangan para revolusioner itu sesuai ideologi partai dan pemimpinnya. Di masa pra kemerdekaan, memang juga ada pembangunan. Jalan Raya Daendels Anyer &#8211; Panarukan yang kesohor itu pun dibuat jaman penjajajahan. Bangunan-bangunan bergaya <em>art deco</em> di kota-kota yang sekarang menjadi kota-kota besar Indonesia, seperti Bandung, Medan, Semarang, Surabaya dan Jakarta pun dibangun dengan tata kota yang apik di jaman penjajahan. Jalur angkutan massal yaitu trem sudah ada di Jakarta jauh sebelum Indonesia merdeka. Jakarta yang sudah diketahui oleh Pemerintah kolonial Belanda lebih rendah dari air laut, sudah dibuatkan pencegahannya dengan banjir kanal barat yang dimulai dari Bogor. Tapi, apakah hasil akhirnya untuk rakyat Indonesia ? Tentu tidak. Hasilnya diperuntukkan bagi kenyamanan para warga Belanda yang kelak berminat tinggal di kota-kota besar tersebut. Perkebunan-perkebunan pun berkembang pesat. Hasilnya ? Diekspor ke Belanda untuk memenuhi kas Belanda sendiri. Sementara rakyat Indonesia cukup jadi kuli pemetik yang bergaji 2 gulden per bulan. Kemerdekaan hukum lebih-lebih lagi tidak mungkinnya. Hukum positif di Indonesia tentu saja diatur oleh hukum yang berlaku di Belanda. Malah lebih sadis lagi, karena di negeri jajahan terjadi politik segregasi dimana pribumi dan orang Belanda dibedakan layanannya. Bahkan untuk layanan publik seperti ketika menonton bioskop. Persis seperti <em>apartheid</em> di Afrika Selatan jamannya F.W. de Klerk. Meski segregasi ini tak terjadi di Belanda sendiri. Malah sampai dengan kemerdekaan kita di tahun 1945 itu, Kitab Undang-undang Hukum-nya masih menggunakan buatan Belanda. Maklum, tidak mudah mencetak sarjana hukum dalam jumlah cukup untuk melakukan transformasi hukum kolonial menjadi hukum negara merdeka.</p>
<p>Tapi coba bandingkan sekarang ini. Yang hampir 63 tahun Indonesia merdeka. Kemiskinan masih ada dimana-mana, pendidikan malah makin mahal. Pengangguran makin merajalela sebagai akibat tambahan krisis global. Korupsi dilakukan berjamaah dan merata di seluruh lembaga negara. Hukum menjadi mainan penegak hukum. Hukum tak kunjung menjadi panglima.</p>
<p>Jadi kenapa masih mau merdeka kalau sudah 63 tahun saja masih sengsara ? Mungkinkah kalau masih dijajah Belanda, kondisi negeri ini tidak seburuk seperti saat ini ?</p>
<p>Benar begitu ? Yang jelas sejarah tak mengenal pengandaian. Yang sudah terjadi itulah yang jadi sejarah. Kita tidak bisa berandai-andai misalkan jika tak ada Sukarni dan Chairul Saleh Cs, apakah proklamasi ya masih tanggal 17 Agustus ? Kita juga tidak bisa berandai-andai jika Belanda berhasil memenangkan agresi militer yang mereka lancarkan, apakah Indonesia masih ada ? Kita tidak bisa berandai-andai apakah Republik yang masih bayi merah itu kuat bertahan jika tak ada dukungan politik dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk tanpa reserve berdiri di belakang republik hasil proklamasi Sukarno-Hatta itu ? Juga, kita juga tidak bisa berandai-andai jika Sultan Hamengkubuwono IX saat itu tidak &#8216;menggratiskan&#8217; Keraton Yogyakarta sebagai Istana Presiden dan memberi gaji pejabat negara Republik yang masih bayi itu dengan uang pribadi Sultan, para pejabat negara itu akan menyeberang ke Belanda karena himpitan ekonomi yang teramat dalam? Yang terjadi adalah sebaliknya. Karena itu, adakah yang perlu disalahkan dengan kondisi bangsa saat ini yang masih saja terpuruk ? Buat saya, tak perlu ada yang disalahkan. Ini kesalahan bersama kita semua (tapi bukan &#8216;Bersama Kita Salah&#8217; ya&#8230;). Rakyat bertanggungjawab karena mau dipimpin begitu lama dalam otoritarianisme dalam dua orde, lama dan baru. Sementara para pemimpin itu, terlena dengan tujuan utama bernegara karena mabuk kekuasaan. Hasilnya seperti sekarang. Demokrasi politik menjadi sangat boros. Pemilu ada dimana-mana, berbiaya besar dan tak tahu apa yang mau dicari. Pemimpin hasil Pemilu tak menjamin perubahan ke arah lebih baik. Sistem nyaris tak berubah. Untuk Pilkada Jatim di tahun 2008 yang sampai tiga kali saja (dua kali putaran ditambah Pilkada ulang di beberapa lokasi) menghabiskan Rp 830 miliar. Luar biasa ! Bayangkan jika uang itu untuk memperbaiki fasilitas pendidikan di Jawa Timur, terutama di kantong-kantong kemiskinan. Pasti akan memberi manfaat tidak sedikit.</p>
<p>Ekonomi kita, makin liberal. Ke arah pasar bebas tanpa kontrol. Dua pilar ekonomi, koperasi dan swasta tidak nyambung dengan misi BUMN. Masing-masing tidak mengabdi kepada amanat konstitusi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun telah menjadi agen kapitalis yang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Padahal kita negara Pancasila : tidak boleh ke kiri sekali (<em>etatisme</em>), juga tak boleh ke kanan sekali (kapitalisme). Tapi jangankan dipraktekkan, bahkan disebut dalam ruang publik pun Pancasila kini hampir tidak pernah diucapkan. Jangan-jangan, jika diambil sampel beberapa orang di jalan yang kita temui dan terus diminta menyebutkan lima sila Pancasila, tak pernah bisa tuntas menyebutkan &#8211; dan mengurutkan &#8211; sila-sila Pancasila yang sebenarnya sangat tinggi nilainya itu.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/02/jgn-menyerah3.jpg" alt="" width="541" height="758" />Jadi, mulai dari mana kita mau memperbaiki negeri kita ? Dan lantas, apa manfaatnya kemerdekaan yang sudah kita rebut ? Toh Malaysia yang kemerdekaannya diberi Inggris pada akhirnya juga mulai menuju tujuan akhir yaitu kesejahteraan rakyat. Satu yang pasti, kemerdekaan yang sudah kita rebut tak lain menjadi mercusuar spiritual bangsa kita bahwa bangsa kita telah menancapkan spirit kemerdekaan menuju masa depan yang lebih baik. Bahwa kemerdekaan yang diperoleh adalah hasil usaha nyata dan penuh darah serta nyawa anak-anak republik ini. Tidak gratis dan jatuh dari langit begitu saja. Kemerdekaan adalah mercusuar yang memberi arah jika kita mulai tersesat, mercusuar yang memberi penanda sudah sejauh mana kita melangkah. Karena keyakinan ini, kita percaya bahwa krisis di negeri kita ini pada akhirnya akan berakhir. Masa depan yang cerah, bukanlah impian. Pendidikan murah tapi berkualitas, pasti bukan khayalan. Pemimpin yang amanah, bersih dan sungguh-sungguh berjuang untuk rakyat, pasti disediakan Tuhan untuk Indonesia. Mercusuar kemerdekaan sudah kita tegakkan, sudah kita dirikan. Maka tak mungkin kita robohkan dan hancurkan. Ia harus tetap ada sepanjang denyut waktu. Dan jika mau memulai, cara terbaik memang dari diri kita sendiri. Karena inilah hal yang bisa kita atur, bisa kita ukur dan bisa kendalikan dengan baik. Itu ada dalam jangkauan kita. Jika tiap orang di negeri ini berbuat dengan sikap dan orientasi terbaik, di bidang apa pun, maka kumpulannya akan menjadi kekuatan positif dan memberi gelombang perubahan positif. Jika saya adalah tukang sapu, maka lakukankah tugas menyapu itu dengan baik sehingga hasil kerja kita menjadi bersih, enak dipandang mata dan membahagiakan orang lain. Jika ia menjadi politisi tingkat kota atau kabupaten, niatkanlah menjadi politisi sejati yang berjuang untuk rakyat yang memilihnya. Jika ia menjadi pengusaha, jadilah pengusaha yang pekerja keras, jujur dan peduli pada lingkungan dimana ia berbisnis. Jika ia menjadi orang tua, jadilah orang tua yang memberi inspirasi, menjadi panutan dan ditempatkan dengan rasa hormat oleh anak-anaknya. Jika kumpulan jika ini dilakukan secara sadar, bersama-sama dan terus menerus, niscaya luka dan keruwetan bangsa ini akan terurai secara alamiah.</p>
<p>Seperti kata Tolstoy, karena Tuhan itu tahu, namun IA menunggu&#8230;.Wallahu&#8217;alam&#8230;***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/02/mulai-dari-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bung Karno dan Ibuku</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/01/bung-karno-dan-ibuku/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/01/bung-karno-dan-ibuku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 01:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[ali sastroamidjojo]]></category>
		<category><![CDATA[bung karno]]></category>
		<category><![CDATA[pni]]></category>
		<category><![CDATA[purwokerto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Oleh JANUAR SETYO WIDODO
Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang agak berbeda. Suatu ketika saya membongkar kembali dokumen foto-foto keluarga. Yang saya cari adalah sebuah foto lama tahun 60-an namun terasa begitu berharga bagi generasi tahun 40-an, dan barangkali, tentu bagi Ibuku sendiri. Foto itu ketemu.
Foto tahun 1963 itu adalah foto ketika ibuku yang saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh JANUAR SETYO WIDODO<a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-1.jpg"></a></p>
<p>Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang agak berbeda. Suatu ketika saya membongkar kembali dokumen foto-foto keluarga. Yang saya cari adalah sebuah foto lama tahun 60-an namun terasa begitu berharga bagi generasi tahun 40-an, dan barangkali, tentu bagi Ibuku sendiri. Foto itu ketemu.<span id="more-51"></span></p>
<p>Foto tahun 1963 itu adalah foto ketika ibuku yang saat itu masih kelas 3 SMA di SMA Negeri 1 Purwokerto (almamaterku juga), bersama dua orang kawan pria yang mendampinginya, menjadi pembaca ikrar di hadapan Sukarno, Presiden RI pertama sekaligus salah satu proklamator kemerdekaan yang menghadiri acara Konggres Partai Nasional Indonesia (PNI), partai politik terbesar di jaman itu.</p>
<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-1.jpg"><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin-left: 4px; margin-right: 4px; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px; float: left;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-1-edit.jpg" alt="BK dan Ibuku-1" width="184" height="117" /></a>Yang ingin saya ceritakan adalah satu cerita kecil dibalik peristiwa yang melibatkan Ibuku dan sang Proklamator itu. Semuanya berawal ketika Ibuku tiba-tiba di suatu sore di tahun 1963 itu dihubungi panitia Konggres PNI di Purwokerto*) yang sekaligus mempersiapkan kedatangan Bung Karno (BK). Ibuku diminta menjadi pembaca ikrar Generasi Muda Front Marhaenis di hadapan Bung Besar ini. Ibuku tentu saja kaget : seorang ABG (Anak Baru Gede) akan bertemu BK yang saat itu begitu populer dan kharismatis sebagai pemimpin Indonesia. Selain tidak pernah terlintas sama sekali akan menerima tugas penting dan terhormat seperti itu, acaranya sendiri akan berlangsung esok harinya. Ya esok hari ! Alias tidak ada hari lain persiapan sama sekali sebagaimana layaknya mempersiapkan kedatangan seorang presiden. Ibuku tentu saja sedikit <em>nervous</em>, bagaimana bisa untuk acara yang sifatnya pasti nasional dan bakal diliput seluruh media di Indonesia itu Ibuku baru dihubungi persi<a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-2-edit.jpg"></a>s sehari sebelumnya. Bagaimana kalau menolak ? Bagaimana kalau nanti gagal dan memalukan keluarga ? Begitulah kira-kira yang berkecamuk di benak Ibuku saat itu. Usut punya usut, sang panitia akhirnya bercerita bahwa sejatinya sudah ada seorang pembaca ikrar yang adalah putri salah seorang pimpinan PNI Cabang Kabupaten Banyumas. Namun setelah beberapa hari berlatih, sang calon pembaca ikrar itu tetap tidak sanggup mengatasi rasa <em>nervous</em> yang mendera, yang ditandai dengan situasi grogi berat pada saat sesi berlatih di depan teman-tem<a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-1-edit.jpg"></a>an koor (paduan suara). Dan nampaknya kondisi ini tidak memungkinkannya untuk melanjutkan tugas penting tersebut. Walhasil, dicarilah kandidat pengganti hari itu juga yang pada akhirnya jatuh ke Ibuku (mengapa pilihannya jatuh ke Ibuku, mungkin juga ada cerita pendukung lainnya).<br />
Singkat cerita, jam itu juga, sore hari itu juga, Ibuku bersama Ketua Panitia Pak Karna Rajasa – putra Ali Sastroamidjojo, mantan Perdana Menteri dan Wakil Ketua MPRS &#8211; segera berangkat ke Issola (Istana Seni dan Olah Raga) Purwokerto untuk berlatih mempersiapkan diri (sekarang Issola sudah berganti menjadi pusat grosir Moro). Di perjalanan menuju Issola itu, pak Karna Rajasa sempat bertanya apakah Ibuku tidak grogi menerima tugas ini, yang dijawab, “<em>Insya Allah tidak Om</em>”.</p>
<p>Esok hari yang menegangkan namun meriah itu, Presiden Sukarno didampingi pejabat pemerintah pusat lainnya dengan diiringi sekitar 40 (empat puluh) Duta Besar, datang ke Purwokerto. Keluarga besar kami pun datang ke Issola. Purwokerto, kota kecil di selatan Jawa ini, hari itu dibanjiri rakyat yang datang juga dari luar daerah Purwokerto. Issola penuh, jalan-jalan macet dan padat karena ribuan orang berkumpul didalam maupun di luar gedung olah raga tersebut. Pembacaan ikrar Generasi Muda Front Marhaenis ini berlangsung sukses dan diikuti lebih kurang 400 pengikut koor yang dipimpin oleh Pak Kus Parwoto Supardi. Dan seperti biasa, Bung Karno pun melanjutkan dengan pidatonya yang ditunggu-tunggu rakyat di alun-alun Purwokerto.</p>
<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-2.jpg" target="_blank"><img class="alignright" style="border: 1px solid black; float: right;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-2-edit.jpg" alt="BK dan Ibuku-2" width="184" height="117" /></a></p>
<p>Beberapa hari kemudian, dokumentasi kedatangan Bung Karno – dan juga pembacaan ikrar oleh Ibuku – selama beberapa hari diputar setiap kali film akan dimulai di seluruh bioskop yang ada di Indonesia saat itu, termasuk bioskop di Purwokerto.</p>
<p>Saat ini Ibuku, Alhamdulillah, masih sehat walafiat dalam usianya yang ke-66 di awal tahun ini. Selamat ulang tahun Ibuku, semoga ALLAH SWT menjagamu dengan kesehatan dan kebahagiaan. Amin.</p>
<p><em>*) Beruntung kita hidup di jaman internet, ingatan Ibuku ini ternyata cocok dengan hasil browsing di <a href="http://gp-ansor.org/?page_id=34" target="_blank">http://gp-ansor.org/?page_id=34</a>, bahwa rupanya kehadiran BK di Purwokerto adalah dalam rangka Konggres X PNI yang berlangsung pada 28 Agustus s.d 1 September 1963.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/01/bung-karno-dan-ibuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segeralah Mengakui Kesalahan Anda</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/01/segeralah-mengakui-kesalahan-anda/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/01/segeralah-mengakui-kesalahan-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 00:49:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Renungan Pemimpin:
SEGERALAH MENGAKUI KESALAHAN ANDA
Bruce Hyland dan Merle 
Dengan mengakui kesalahan-kesalahan Anda bisa menjernihkan suasana dan
menyampaikan pesan penting mengenai tanggung jawab.
Renungan:
Jika anda membuat begitu banyak kesalahan sehingga mengakui satu-dua saja
anda enggan atau tidak bisa, masalahnya tidak terletak pada pengakuan. Kita
semua membuat kesalahan, jadi mengapa enggan mengakuinya?
Jika anda membuat kesalahan, akuilah. Penting sekali mengakui kesalahan ini
begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt; font-family: ">Renungan Pemimpin:<br />
SEGERALAH MENGAKUI KESALAHAN ANDA<br />
Bruce Hyland dan Merle </span></p>
<p><img class="alignleft" style="float: left; border: 1px solid black; margin-left: 4px; margin-right: 4px; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/01/leaderlogo1.gif" alt="" width="90" height="97" />Dengan mengakui kesalahan-kesalahan Anda bisa menjernihkan suasana dan<br />
menyampaikan pesan penting mengenai tanggung jawab.</p>
<p>Renungan:</p>
<p><span id="more-70"></span>Jika anda membuat begitu banyak kesalahan sehingga mengakui satu-dua saja<br />
anda enggan atau tidak bisa, masalahnya tidak terletak pada pengakuan. Kita<br />
semua membuat kesalahan, jadi mengapa enggan mengakuinya?</p>
<p>Jika anda membuat kesalahan, akuilah. Penting sekali mengakui kesalahan ini<br />
begitu anda menyadarinya, ketika kesalahan itu masih hangat-hangatnya<br />
dirasakan oleh banyak orang. Kalau tidak, akan terasa bahwa anda berusaha<br />
menimpakan kesalahan pada orang lain. Beritahukan pada pihak-pihak yang<br />
terlibat, apa yang bisa dan akan anda lakukan untuk meluruskan kesalahan<br />
itu. Jika kerugian akibat kesalahan itu tak mungkin dipulihkan, dan<br />
satu-satunya pengganti adalah permintaan maaf, maka sampaikan permintaan<br />
maaf anda.</p>
<p>Jarang sekali kesalahan lepas dari perhatian. Di samping itu, sebagian<br />
energi yang terbuang untuk berusaha menutup-nutupinya justru akan<br />
memperpanjang penderitaan batin dan meningkatkan kesumpekan dengan jalan<br />
mengalihkan waktu dan perhatian dari upaya memecahkannya. Jika anda mengakui<br />
kesalahan-kesalahan anda, karyawan akan membangun sikap hormat pada<br />
integritas, kejujuran dan kemanusiaan anda.</p>
<p>Bahan Renungan:</p>
<p>&#8211;Bagaimana Anda bereaksi ketika menyadari bahwa Anda telah melakukan<br />
kesalahan ?</p>
<p>&#8211;Bagaimana perasaan Anda setelah mengakui kesalahan, lega atau malah makin<br />
sumpek ?</p>
<p>&#8211;Berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk mengakui kesalahan ?</p>
<p>(diadaptasi dari: Reflections for Managers)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/01/segeralah-mengakui-kesalahan-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence)</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/01/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligence/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/01/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligence/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 23:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Oleh JANUAR SETYO WIDODO
 
Orang tua, orang yang sudah punya anak atau orang yang sudah mulai merasa tua dan karena itu sering dimintai pandangan bagaimana memahami anak-anak atau bahkan hasil dari perilaku seseorang, kiranya perlu menelaah gagasan ini : setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda.
Kecerdasan yang berbeda, maksudnya setiap anak – yang normal secara intelektual tentunya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Oleh JANUAR SETYO WIDODO</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Orang tua, orang yang sudah punya anak atau orang yang sudah mulai merasa tua dan karena itu sering dimintai pandangan bagaimana memahami anak-anak atau bahkan hasil dari perilaku seseorang, kiranya perlu menelaah gagasan ini : setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Kecerdasan yang berbeda, maksudnya setiap anak – yang normal secara intelektual tentunya &#8211; , pasti punya kecerdasan. <span id="more-68"></span><img class="alignright" style="float: right; margin: 2px;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/01/mi.gif" alt="" width="445" height="275" />Jadi, tidak benar ada anak yang bodoh atau malah dungu. Kesimpulan sederhana saya ini berangkat dari pendekatan Howard Gardner dari Universitas Harvard. Teori Gardner yang diintroduksi tahun 1983 ini untuk mengoreksi teori <em>Intelligences Question</em> (<em>IQ</em>) yang dikembangkan Alfred Binet di tahun 1909 lalu. Menurutnya, setiap orang memiliki satu atau lebih dari delapan jenis kecerdasan yaitu : Linguistik, Matematis-Logis, Spasial, Kinestetik-Jasmani, Musikal, Interpersonal, Intrapersonal dan Naturalis. Jenis kecerdasan yang disebutkan Gardner diatas, penjelasannya sesuai dengan nama jenis kecerdasan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">1.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span><span style="font-size: small;">Kecerdasan Linguistik (<em>word smart</em>) : ini kecerdasan yang terkait dengan kemampuan berbahasa. Baik dalam pengertian memahami sebuah rangkaian kata menjadi kalimat dalam sebuah bahasa tertentu maupun menggunakannya untuk menyampaikan maksud tertentu. Inilah salah satu kecerdasan yang banyak dijadikan acuan dalam test psikologi yang dikembangkan Binet. Ahli bahasa, penterjemah, penyuka sastra, mestilah punya jenis kecerdasan ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">2.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span><span style="font-size: small;">Kecerdasan Matematis-Logis (<em>number smart</em>) : ini kecerdasan yang terkait dengan matematika dan pemikiran logis. Kecerdasan ini pun sering menjadi acuan dalam test psikologi ala Binet. Ilmuwan dan para peneliti pasti memilikinya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">3.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="font-size: small;">Kecerdasan Spasial (<em>picture smart</em>) : kecerdasan ini terkait dengan kemampuan mengekspresikan dunia spasial (ruang) dan kemudian mentransformasikan persepsinya itu. Karena itu kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang, hubungan antar unsur adalah kelebihan yang ada pada kecerdasan ini. <span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES">Pelukis, arsitek dan para desainer saya kira memang memiliki kecerdasan jenis ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">4.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Kinestetik-Jasmani (<em>body smart</em>) : kecerdasan menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide-perasaan, keterampilan menggunakan tangan untuk mencipta, dan kemampuan fisik yang spesifik seperti keseimbangan, kekuatan, kelenturan atau kecepatan. Olahragawan, para atlit dibekali kecerdasan ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">5.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Musikal (<em>music smart</em>) : kecerdasan mengapresiasi berbagai bentuk musik, membedakan, menggubah dan mengekspresikannya. Memiliki kepekaan terhadap irama, pola nada atau melodi dan warna atau nada suara suatu lagu adalah pemilik kecerdasan jenis ini. Komposer, para seniman musik pastiu dianugerahi bakat ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">6.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Interpersonal (<em>people smart</em>) : kecerdasan dalam mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi serta perasaan orang lain. Memiliki kepekaan terhadap ekspresi wajah, gerak isyarat, kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal serta kemampuan mempengaruhi orang lain melakukan sesuatu. Para pemimpin yang kharismatis, orang-orang yang memiliki tingkat pergaulan yang luas, dipastikan memiliki kecerdasan jenis ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">7.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Intrapersonal (<em>self smart</em>) : kecerdasan dalam memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman itu. Kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, keinginan, berdisiplin diri dan kemampuan menghargai diri adalah ciri-cirinya. Seseorang dengan kecerdasan ini, tentunya memiliki kepribadian yang stabil.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">8.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Naturalis (<em>nature smart</em>) : kecerdasan mengenali dan mengategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar. Kepekaan terhadap fenomena alam lainnya, kemampuan membedakan benda tak hidup dengan benda hidup lainnya termasuk kecerdasan ini. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Sumbangan terpenting Gardner dibanding Binet sebenarnya adalah bagaimana memahami kemampuan seseorang secara utuh. Delapan kecerdasan diatas saya kira memang sudah bisa dikenali sejak seseorang masih berusia dini. Tinggal bagaimana stimulan yang diberikan orang tua, mampu memberi petunjuk kecerdasan mana yang memang memiliki porsi besar. Seseorang mungkin kuat dalam satu atau dua kecerdasan tertentu, tapi mungkin saja lemah dan bahkan buruk untuk kecerdasan lainnya. Seorang anak yang lahir dalam lingkungan yang sangat kondusif dalam satu kecerdasan tertentu, pada akhirnya akan terkondisi untuk kuat dalam salah satu kecerdasan tersebut. Maka tak heran, dari seorang keluarga yang gemar berenang, lahirlah perenang-perenang yang baik bahkan jika dibekali metode yang tepat, jadilah ia perenang profesional. Yang terpenting, selama sebuah kecerdasan memungkinkan untuk terus dikembangkan, maka tidak ada kata final menilai sebuah kecerdasan. Tidak hanya pada anak, bahkan mungkin pada orang dewasa. Di dunia yang makin kompleks, maka tipologi kecerdasan diatas, harapannya, bukanlah semata-mata untuk keunggulan pribadi dan pada akhirnya hanya memberi keuntungan pribadi, namun sejauh mungkin memberi kontribusi solusi kepada lingkungan. Itulah yang diperlukan Indonesia saat ini. <em>Wallahu’alam</em>.*** </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/01/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligence/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
