Inflasi, daya beli dan nilai tukar

Soal inflasi dan daya beli, yaitu pembentukan harga – dan pada akhirnya membentuk inflasi – juga akibat kurs. Sesuai hukum Fischer yang menghubungkan inflasi dan kurs, ada perbandingan terbalik antara inflasi dan kurs. Negara dengan inflasi rendah memang memiliki mata uang (kurs) yang cenderung kuat, begitu sebaliknya. Inflasi yang rendah pada negara ber-kurs kuat lebih karena salah satu sebabnya masyarakatnya lebih menyukai produk impor yg lebih murah dari barang produksi negerinya sendiri. Namun, inflasi rendah bisa saja akibat total pertumbuhan ekonomi yang juga rendah, sesuai formula Y = C + I + G + (Ex – Im), dimana Y adalah GDP, C (Konsumsi masyarakat), I (investasi), G (pengeluaran pemerintah/Govt) dan (Ex – Im) adalah delta ekspor dan impor. Tentunya Y rendah karena semua komponen pembentuk Y juga rendah, meski bisa saja masyarakat punya uang, namun tidak mau membelanjakannya saat ini. Ini kemudian menjadikan G dan (Ex- Im) yang dibawah kendali pemerintah digerakkan dengan membelanjakan APBN dan mendorong ekspor agar Y bisa naik ( baca = ada pertumbuhan GDP).

Hukum supply – demand sebenarnya juga otomatis bekerja pada pasar yang terbuka (dan pasar sempurna). Ketika daya beli turun, maka demand berarti turun. Demand yang turun,mengakibatkan harga barang akan turun (kurva permintaan akan bergeser ke kiri / turun), supply kemudian akan dikendalikan (diturunkan) oleh produsen. Turunnya harga ini, akan berakibat sebaliknya, meningkatkan demand kembali. Yang pada gilirannya, akan meningkatkan supply. Begitu seterusnya. Biasanya memang, inflasi berkebalikan dengan daya beli. Inflasi yang tinggi menyebabkan daya beli yang rendah. Namun, praktik bahwa inflasi rendah sekaligus daya beli rendah, agak sulit ditemukan dan dicari penyebabnya. Namun demikian, kegiatan ekonomi adalah kegiatan masyarakat pasti terkait juga dengan perilaku masyarakat.

No Comments

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia