Pemimpin Transformasional

#repost Facebook

Hari Sabtu (1/8/2015) lalu saya berkesempatan bersilaturahmi dengan Walikota Surabaya, Tri Trisma Harini.Meneri20150801_With Bu Rismama rombongan PP IKA ITS masih dengan sepatu olah raga, beliau mempersilahkan kami masuk ke ruang tamu Walikota yang cukup luas dan dipenuhi foto para Walikota pendahulu. Beliau adalah Walikota Surabaya wanita yang pertama. Tak berbeda dengan yang saya lihat di televisi maupun rekaman video-nya di situs berbagi video You Tube, gaya bicaranya apa adanya, khas Suroboyoan dan penuh energi. Ini pertemuan kedua.Yang pertama tahun 2012 lalu saat PP IKA ITS mengadakan Seminar Wanita dalam rangka Hari Kartini dan beliau menjadi salah satu pembicaranya.

Bu Risma banyak bercerita soal kegiatan dengan warganya. Beliau bercerita baru mendapat laporan dari Kadinas Sosial yang baru saja menemukan dua anak peminta-minta yang katanya sudah yatim piatu. Mendengar laporan tersebut, Bu Risma langsung meluncur ke lokasi dan menemui kedua anak tersebut. Setelah diusut, ternyata kedua anak tersebut berbohong soal kedua orang tuanya. Bu Risma marah besar kepada anak tersebut dan meminta kedua orang tuanya menjemputnya. Beliau marah karena dua hal : anak tersebut sudah berbohong (bahwa kedua ortunya sudah meninggal !) dan karena mereka meminta-minta.

***

Sambil sarapan, beliau juga cerita soal bagaimana seharusnya kinerja birokrasi dan bagaimana reward and punishment yang tepat, akan memberikan efek perubahan yang signifikan. Beliau contohkan bagaimana insentif pendapatan pegawai menjadi alat perubahan kinerja birokrasi. Semua honorarium yang sering tidak standar dan sumbernya kadang ‘meragukan’, dijadikan tunjangan yang bersifat insentif dan terkait kinerja (KPI, Key Performance Index). Agar aman secara prosedural, sebelum keputusan ditetapkan, dikonsultasikan dulu ke KPK. Salah satu dampak positifnya, tiap hari Sabtu banyak pegawai Kodya Surabaya masuk kerja. Selain mungkin pekerjaan ada yang tidak bisa menunggu, ada konversi hasil kerja mereka yang berbanding lurus dengan penghasilan. Selain sah, tentunya juga halal.

20150801_Breakfast Bu Risma

***

Berikutnya, beliau cerita bagaimana kesalnya beliau kepada salah satu Wakil Bupati di Jatim,saat memotong antrian halal bihalal lalu di Gedung Grahadi, kantor Gubernur Jatim. Dengan ekspresi yang tegas, beliau ceritakan bagaimana tanpa ragu-ragu dia mengibaskan tangannya kepada ajudan Sang Wabup ketika akan memotong antrian Bu Risma. Dengan nada tegas dan tentu saja berani, beliau katakan untuk jangan seenaknya memotong antrian orang. Ia katakan ini kepada ajudan dan Sang Wabup tersebut untuk mengantri saja seperti lainnya. Apalagi beliau sudah merasa antri sejak pagi untuk segera bisa bersalaman dengan Gubernur mengingat ada agenda lain juga yang akan Bu Risma selesaikan. Meski Sang Wabup sempat sesumbar sebagai mantan Bupati sejak Orde Baru dirinya selalu diutamakan, beliau tidak peduli.

“Aku ra peduli kowe sopo lan arep ngomong opo. Nek pengen cepet yo ngantrio ket isuk…” (Saya tidak peduli kamu siapa dan mau ngomong apa. Kalau mau cepet, ya ngantri saja sejak pagi..)

***

Cerita pertama mewakili karakter Bu Risma yang cepat tanggap. Cerita kedua mewakili semangat jaman yang memang seharusnya birokrasi itu ya melayani, bukan minta dilayani. Syaratnya, urusan pribadi si pelayan mesti beres dulu, termasuk hal mendasar yaitu pendapatan mereka. Dan cerita ketiga tentu mewakili ketegasan beliau yang memang sudah sangat dikenal. Bagaimana beliau sangat marah kepada salah satu produsen ice cream yang merusak Taman Bungkul karena program ice cream gratisnya beberapa waktu lalu. Tidak tanggung-tanggung, kemarahan ala Suroboyoan itu bahkan menggunakan terminologi bahasa kemarahan spontan kita-kita warga biasa. Dan beliau memang tidak peduli dengan citra pribadi.

Mungkin, itulah makna praktis pemimpin transformasional. Pemimpin yang mengubah lingkungan yang dia pimpin menuju keadaan yang lebih baik. Pemimpin yang juga berorientasi masa depan. Pemimpin transformasional memiliki idealisme dan visi. Lawan dari pemimpin transformasional adalah pemimpin transaksional. Pemimpin jenis ini mengukur segala sesuatu dari transaksi material yang diperjanjikan. Jika memberikan keuntungan, transaksi akan terjadi. Namun jika tidak menguntungkan, tak akan ada transaksi meski transaksi itu adalah transaksi dengan pemberi kekuasaan alias rakyat.

Surabaya memang telah berubah drastis semenjak 2010, saat Bu Risma memimpin Surabaya. Ya, Bu Risma memang sudah mengubah Surabaya.

Terima kasih Bu, kemarin rawonnya juga enak (JSW).

@januar_sw

No Comments

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia