Selamat tinggal SMS Mama

Harian JURNAL NASIONAL, 20 Februari 2012 : Ekonomi, Bisnis, Keuangan

Oleh JANUAR SETYO WIDODO

jurnaslogoKetika 11 Desember 2011 lalu Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengeluarkan ketentuan bahwa kebijakan Short Message Service (SMS) akan diubah dari Sender Keep All (SKA) menjadi Non-SKA alias berbasis biaya (cost base), maka bisa jadi itulah terapi akhir maraknya aksi SMS spam seperti SMS meminta transfer pulsa dari Mama ke anaknya. Ya memang SMS Mama kini sudah berakhir, namun sekarang berganti rupa menjadi SMS minta transfer uang. Belum lagi iklan, penawaran kerja sama dan terakhir sedot pulsa. Dalam sehari penulis bisa menerima puluhan SMS spam seperti inii.

Industri Yang Adil

Pemberlakuan SKA seharusnya sudah berakhir dengan lahirnya Peraturan Menteri (PM) Nomor 8 tahun 2006 tentang Interkoneksi yang intinya biaya telekomunikasi dihitung berbasiskan biaya element jaringan, bukan lagi SKA atau pembagian hasil (revenue sharing) yang saat itu umum dipakai sebagai model bisnis para operator untuk saling bekerja sama. Namun karena kondisi industri saat lahirnya peraturan tersebut belum seimbang, SMS SKA ditunda penerapannya. Berakhirnya rezim SMS SKA berarti dimulainya rezim baru alias rezim SMS Non-SKA. Rezim SKA mengisyaratkan bahwa benefit bisnis SMS berada di tangan operator pengirim (sender) SMS. Operator penerima, tidak memperoleh benefit. Benefit disini tentu diartikan dengan revenue yang bakal diperoleh atau tidak diperoleh. Dengan SMS SKA, mulailah era gimmick marketing Rp 0 alias gratis ke all operator. Pada awalnya, SMS gratis hanya diberikan ke satu operator tertentu atau bahkan ke all operator sebagai bonus atau nilai tambah dari pembelian paket pre-paid yang ditawarkan kepada konsumen. Dalam perkembangannya, memanfaatkan kebijakan SKA tadi, gimmick gratis ke all operator malah menjadi gimmick utama. Terutama bagi operator dengan pelanggan yang masih kecil. Akibatnya bisa ditebak, shares pelanggan operator-operator itu memang naik dan merebut swing consumen yang kebanyakan memang pre-paid, paling tidak untuk penjualan paket perdana mereka. Dan konsumen yang hanya memanfaatkan gimmick free SMS all operator pun menjadi makin tumbuh besar. Tumbuh besarnya pelanggan penikmat free SMS ini tentu saja meningkatkan jumlah SMS yang mereka kirimkan.  Tetapi pada akhirnya, beban jaringan operator penerima free SMS pun makin meningkat, sementara dari sisi revenue, tak ada yang mereka terima. Pada jam-jam sibuk dan program tertentu di televisi, peningkatan beban jaringan akibat mendapat blasting free SMS ini mengakibatkan kualitas layanan pun makin menurun akibat meningkatnya okupansi jaringan. Dua hal ini – gimmick free SMS dan beban jaringan operator penerima – memang menjadi hal utama pertimbangan peninjauan kembali kebijakan SMS SKA. Belakangan, akibat ikutan lain dari free SMS misalkan, maraknya SMS yang bisa dikategorikan spam (iklan, tawaran kerjasama perbankan, dan penipuan/ SMS Mama). Tidak itu saja, free SMS pun dimanfaatkan untuk melakukan pemotongan pulsa sepihak. Kasus yang populer disebut ‘Sedot pulsa’ ini bahkan sudah menjadi konsumsi politik dengan menjadi agenda DPR RI melalui pembentukan Panja (Panitia Kerja) untuk mengusut modus yang merugikan konsumen ratusan miliar rupiah tersebut.

Peluang Bisnis

Namun demikian, selalu ada emas dibalik bebatuan. Pepatah ini nampaknya berlaku pula bagi perubahan kebijakan ini. Kebijakan ini memberi peluang tumbuhnya industri telekomunikasi dengan normal.  Dari sisi bisnis, masa tenggang menuju pemberlakuan resmi SMS Non-SKA pada tanggal 1 Juni 2012 nanti memberikan kesempatan para operator menata business plan mereka untuk menata perangkatnya mempersiapkan kebijakan baru ini. Dari sisi masyarakat, kiranya perlu cermat dan membiasakan diri ketika ber-SMS setelah kebijakan ini diterapkan. Pada saat masih rezim SKA, para operator tidak dituntut banyak mengurusi perangkat yang mengelola trafik SMS ini. Cukup GSMSC (Gate SMS Center) dan sewa link ke operator lain dengan kapasitas yang disesuaikan dengan business plan mereka. Para operator itu tidak banyak membangun data center untuk menyimpan (recording) dan menagih (billing) SMS yang masuk (incoming). Mereka hanya seperlunya saja mempunyai data center untuk menyimpan SMS yang memang bisa menghasilkan revenue setelah proses billing. Untuk operator pengirim (sender) yang memberlakukan free SMS bahkan bisa saja tidak perlu melakukan pencatatan apapun, karena toh tak ada revenue yang mereka terima. Dan bagi operator penerima (keeper), malah tak perlu melakukan apapun : tak perlu mencatat, menyimpan, apalagi mem-billing. Karena rezim SKA memang hanya memberikan revenue bagi pengirim, tidak bagi penerima. Dengan diberlakukannya rezim Non-SKA, maka semuanya menjadi berubah. Baik operator pengirim (sender) maupun penerima (keeper), perlu mempersiapkan perangkat pencatat, penyimpan dan lalu-membilling trafik SMS yang masuk maupun keluar. Operator penerima perlu membangun perangkatnya untuk kelak menagihkan biaya yang timbul (baik karena trafik SMS incoming maupun transit) kepada operator pengirim. Sementara operator pengirim juga perlu membangun perangkatnya untuk data pembanding ketika kelak ia ditagih untuk membayar beban yang ditimbulkannya. Kemungkinan kesiapan para operator memang bervariasi. Karena itu, perubahan rezim SMS dari SKA menuju Non-SKA memang dirasakan menjadi PR yang harus segera dikerjakan para operator kecil. Dan jika kebijakan SMS Non-SKA ini berpeluang tak hanya menciptakan revenue tapi juga menambah beban baru, itu berarti para operator itu mesti menyusun lagi business planning mereka agar on balance mereka tetap untung dengan kebijakan baru dari pemerintah ini. Yang paling mahal tentulah membeli perangkat. Yang paling murah, tentulah cukup menyewa perangkat yang diperlukan. Memang, beban para operator yang sudah tampak di depan mata adalah : beban pengadaan perangkat dan beban terminasi (ataupun transit) SMS.

Dengan jumlah total SMS yang beredar di tahun 2010 lebih dari 450 miliar SMS, dan perilaku unik konsumen Indonesia yang lebih menyukai SMS dibanding berbicara langsung, kebijakan ini mestinya memang menggairahkan industri telekomunikasi di tahun 2012 dan sekaligus menjadi customer education.***

Januar Setyo Widodo, praktisi telekomunikasi, http://www.januarsw.com

Link : [klik]

 

No Comments

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia