Jalan Sunyi Sekar Telkom

no korupsiTanggal 1 Maret 2012 Sekar Telkom akan berulang tahun ke-12. Tidak banyak organisasi pekerja atau karyawan atau pegawai yang mampu dan konsisten melebihi sepuluh tahun dalam berkiprah. Tentu saja berkiprah disini adalah bukan sekedar ada atau terdengar saja, tapi betul-betul kongkrit hadir, memberi kontribusi dan diakui. Banyak organisasi karyawan yang usianya sama dengan Sekar Telkom. Sama juga lingkungannya yaitu dari lingkungan BUMN. Tapi apakah mereka bekerja sebagaimana seharusnya organisasi itu ada? Jadi mudah-mudahan saja apa yang saya sampaikan itu memang benar dan dirasakan.

Satu yang menonjol dari kiprah Sekar Telkom adalah aktifitasnya yang kadang beyond expectation alias diluar dugaan. Kerap kali, karena beyond, Sekar Telkom kemudian menjadi nyleneh dan sukar diikuti oleh organisasi sejenis. Saya membedakan aktifitas Sekar Telkom menjadi tiga bagian. Yang pertama, aktifitas di bidang sosial. Di bidang ini, siapapun hendaknya meluangkan waktu membaca track record Sekar Telkom sejak berdirinya dan sesudah itu memberikan apresiasi pada tempatnya. Jika ada istilah Corporate Social Responsibility (CSR), ada baiknya juga dipopulerkan istilah Union Social Responsibility (USR) untuk kegiatan sosial Sekar Telkom ini. Penanggulangan bencana alam, aksi solidaritas kepada anggota, aksi sosial kepada negara dan aksi sosial kepada masyarakat adalah bentuk praktisnya. Untuk penanggulangan bencana, contoh yang harus dihadirkan agar menjadi memori bersama adalah pada saat tsunami Aceh 26 Desember 2004. Besarnya bencana dan korban jiwa serta kacaunya situasi, memunculkan gagasan kreatif rekan-rekan pengurus Sekar DPW 1 Sumatera saat itu : mencarter sebuah pesawat terbang untuk sesegera mungkin mungkin mengevakuasi seluruh karyawan dan keluarganya dari Aceh ! Selamatkan dulu keluarga besar kita, sebelum kita ikut terjun membantu rakyat Aceh yang terkena bencana. Sesudah contoh diatas, maka aktifitas sosial lainnya pun menghiasi perjalanan Sekar Telkom selama dua belas tahun : membangun kembali rumah anggota yang kebakaran, digusur, atau terkena gempa,  membangun TK, merenovasi SD, donor darah, mendorong penghijauan sampai mencarikan mobil jenazah bagi keluarga karyawan yang kesulitan menghantar almarhum ke tempat terakhir. Bahkan pada momen pembagian jasa produksi (Jasprod) beberapa waktu lalu, Sekar Telkom pun mengorganisir pemotongan Jasprod. Hasil yang diperoleh dari iuran segenap karyawan ini lumayan juga. Berbilang miliar rupiah. Hasilnya disalurkan untuk menambah uang bulanan beberapa ratus pensiunan Telkom dengan cara menyetorkan uang tersebut ke salah satu asuransi.  Terus terang, terusik juga hati ini ketika beliau-beliau demo ke kantor pusat soal kenaikan manfaat pensiun dan tak ada atau kurang pihak yang meresponnya. Karena bagaimanapun juga, nantinya nama perusahaan juga akan terbawa-bawa. Meski mungkin tambahan uang bulanan dari kegiatan urunan itu secara individu tidak terlalu besar, tetapi jangkauan dan kemanfaatannya mencapai ratusan orang pensiunan. Tentu saja, itu juga bisa diartikan sebagai kepedulian karyawan Telkom yang masih aktif kepada senior-seniornya dulu yang mungkin tidak sempat mengurusi kebijakan perusahaan kepada para pensiunan. Sekar Telkom juga sudah punya Yayasan Sekar Telkom. Tapi sebagai anggota, kiprah yayasan ini sekarang terdengar sayup-sayup buat saya. Apa Yayasan ini masih ada ? Yang tak boleh dilupakan juga adalah dibangunnya sarana telekomunikasi di pulau Miangasempat pilar menggunakan teknologi VSAT.  Pulau Miangas adalah pulau terluar sebelah utara negara kita yang berbatasan dengan Pilipina.  Meski kini tak jelas bagaimana nasib pengelolaannya, union action semacam ini sesungguhnya beyond expectation dari sebuah organisasi serikat. Pada saat saya masih menjadi Kabid Organisasi di Dewan Pengurus Pusat (DPP), seringkali saya menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan aktifitas ini karena perkara dana yang dibutuhkan (dan akuntabiltasnya !), fokus organisasi, koordinasi dan after care kegiatan ini, lalu akhirnya  mencoba memaafkan diri sendiri jikalau mengingat misi luhur yang ingin diemban : menjaga halaman terluar NKRI.  Luar biasa bukan, sebuah serikat dengan term NKRI !.

Yang kedua adalah aktifitas untuk korporasi. Saya menyebutnya corporate advocation alias pembelaan terhadap korporasi. Aktifitas ini seringkali menimbulkan salah paham. Salah pahamnya tidak main-main. Salah paham dengan Direksi Telkom, pemegang amanat korporasi tertinggi. Ini saya sebut salah paham vertikal. Meski salah paham jenis lain pun seringkali juga terjadi, yaitu salah paham dengan anggota alias salah paham horisontal. Salah paham horisontal, biasanya soal sosialisasi dan filosofi kegiatan atau gerakan. Direksi Telkom salah paham, karena macam-macam. Bisa karena Direksi melihat tidak ada persoalan dengan kebijakan korporasi yang diambil. Bisa karena belum paham betul apa yang dimaui Sekar Telkom.  Tapi rupanya salah paham seringkali juga menghinggapi para pengurus Sekar Telkom. Misalnya  bahwa rekan-rekan Sekar Telkom menilai Direksi takut posisinya diganti jika mengikuti logika Sekar Telkom. Maka cerita soal kegaduhan KSO (Kerja Sama Operasi) di Jateng DIY, KSO Jawa Barat, Kode Akses SLJJ (KAS) dan terakhir soal Telkom Flexi, selalu dihiasi soal-soal diatas. Meski sebenarnya, saya melihat ada soal psikologis juga kenapa Sekar Telkom selalu dipersepsikan ‘harus’ berbeda atau berlawanan dengan Direksi atau malah sebaliknya, Direksi harus dipersepsikan selalu berbeda dengan Sekar Telkom.  Padalah dengan konsep kemitraan konstruktif, Sekar Telkom mesti konsisten memandang Direksi (dan jajarannya) sebagai mitra. Vice versa, tentulah Direksi (dan jajarannya) juga konsisten memandang Sekar Telkom sebagai mitra konstruktifnya. Gonjang-ganjing akan dilepaskannya Telkom Flexi di akhir tahun 2010 lalu, masih dihiasi salah paham serupa. Malah lebih seru karena isu yang beredar saat itu Direksi Telkom di-back up penuh Menteri BUMN Sofyan Jalil untuk jalan terus melego Flexi  dan jangan takut dicopot dari jabatannya. Apa iya begitu ? Wallahu’alam… Yang jelas, masuknya Pak Jusman Syafii Djamal sebagai Komisaris Utama Telkom pada awal 2011 pada akhirnya meredakan ‘ketegangan’ soal Flexi ini dengan statement wise beliau yang akan meninjau kembali kebijakan merger atau pun spin off Telkom Flexi. Setelah, itu tak ada lagi komentar di media soal mau dijualnya Flexi oleh Telkom, tidak ada lagi komentar tanggapan dari kementerian BUMN dan tentu saja tak ada berbalas pantun dari Sekar Telkom di media. Tapi bagaimana kalau Pak Jusman diganti, apakah Flexi akhirnya akan dijual karena corporate strategic plan-nya begitu ? Dan konon kini Flexi pun terus merugi ? Terus apa Sekar Telkom rame lagi ? Jika keduanya berhitung secara dingin, rasional namun bertanggungjawab, pasti semuanya terpecahkan.  Bukan memanas-manasi ya, tapi berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Toh di dunia bisnis, asal hitung-hitungan akhirnya untung,  bukan tidak mungkin rencana tersebut dijalankan kembali walau mungkin akan menyimpan potensi api dalam sekam. Wallahu’alam..

Kategori aktifitas ketiga adalah employee advocation alias pembelaan terhadap anggota. Menurut saya inilah jalan terang benderang mengapa sebuah serikat harus ada, lalu hidup dan menghidupkan tujuan sucinya.  Membela (baca : mengurusi) anggota ini sesungguhnya spektrumnya luas sekali. Intinya, dari mulai ia jadi capeg (calon pegawai) atau cakar (calon karyawan) sampai ia calon pensiun, harus diurusi dan berurusan dengan Sekar Telkom. Ya orangnya, ya sistemnya, ya kebijakannya semuanya harus terhubung dan berhubungan dengan Sekar Telkom. Jadi selain ia diurusi dan berurusan dengan SDM, karyawan Telkom harus juga diurusi dan berurusan dengan Sekar Telkom. Urusan-urusan itu dan bagaimana mengurusnya, kemudian dituangkan dalam Perjanjian Kerja Bersama  (PKB). Keduanya harus sepakat, fair dan komit untuk menjalankan yang disepakati itu.

***

tolak KASSemenjak Oktober 2010, saya sudah menjadi anggota biasa setelah hampir sepuluh tahun sejak berdirinya Sekar Telkom di tahun 2000 lalu nyaris aktif terus-menerus di organisasi pengganti Korpri ini (masih ada yang ingat singkatannya Korpri kan ?). Karena itu, jika sekarang menulis untuk berbagi, tentu sudut pandangnya lebih sebagai anggota biasa. Meski begitu, beberapa kawan yang masih jadi pengurus masih sering berdiskusi dengan saya. Pertanyaan yang sering muncul di diskusi itu, kok sekarang Sekar Telkom adem ayem ? Apa karena Pengurusnya sudah pada ayem (tenang dan tenteram) ? Wah, bingung juga saya menjawabnya…Kalau sekarang Sekar Telkom terasa adem,terasa ayem atau bahkan adem ayem, mungkin memang ada pilihan aktifitas ketiga diatas yang sedang dikerjakan. Sekar Telkom sedang bekerja di kategori ketiga : employee advocation. Nah, sepanjang pengalaman saya, bekerja di ladang pembelaan kepada anggota ini seringkali suaranya memang sunyi meski tujuannya sangat mulia dan terang benderang. Berita pembelaannya, jarang terdengar atau bahkan tidak pernah muncul di milis-milis anggota apalagi muncul di koran umum. Kalau pilihan aktifitas kedua diatas bisa disebut jalan gaduh, inilah yang saya sebut jalan sunyi. Karena ketika masalah anggota muncul dan masuk kepada persidangan TPTA (Tim Penetapan Tindakan Administrasi) antara Sekar Telkom dengan SDM, rapat-rapat maraton seringkali harus dijalani dan berhari-hari. Saya bahkan pernah mengikuti sidang TPTA selama hampir setahun. Di sidang-sidang itu perdebatan terkadang emosional jika agendanya adalah penentuan dikeluarkan atau tidak dikeluarkannya seorang karyawan yang masuk kategori pelanggaran berat. Bagi rekan-rekan di SDM, rapat-rapat TPTA itu mungkin menjadi bagian dari pekerjaan mereka. Masuk SKI (Sasaran Kerja Individu), ada penilaiannya, ada targetnya dan tentu saja ada budget-nya. Sementara bagi yang sedang mengurus organisasi, itu adalah amanah dan tanggungjawab yang mesti diemban di tengah-tengah sulitnya mengatur waktu untuk bekerja dan mengurus organisasi. Dengan demikian, tidak ada yang menilai, tidak ada yang memberi reward kecuali reward dari hati bahwa sudah berkesempatan membantu rekan lain keluarga besar Telkom dan keyakinan bahwa apapun yang kita lakukan, Tuhan akan mencatatnya baik-baik dan moga-moga catatan itu jadi amal. Jalan sunyi yang lain juga bisa berupa proses kaderisasi. Mempersiapkan pengurus baru, mendidiknya agar paham organisasi dan berorganisasi dan kemudian committed melaksanakan amanah yang dipercayakan kepadanya. Sungguh pekerjaan yang butuh ketelatenan karena mungkin saja hasilnya tidak bisa seketika sementara persoalan anggota yang harus diurus (baca : dibela) makin bertambah saja dengan makin kompleksnya bisnis perusahaan. Jalan sunyi ini, meski kelihatannya kurang populis, sesungguhnya dampaknya amat besar bagi anggota dan organisasi. Karena membela anggota sebenarnya berarti membantu memecahkan masalah mereka yang bisa-bisa merembet menjadi masalah keluarga. Dan ujung-ujungnya, bagi kelangsungan hidup perusahaan juga .  Jadi, jawaban positive thinking ini yang lalu saya bisa berikan ketika ada pertanyaan seperti diatas. Dan saya percaya, memang Sekar Telkom saat ini sedang mengambil jalan sunyi ini, bukan karena hal-hal lainnya.

***

Hal lain yang penting adalah bagaimana pengurus Sekar Telkom (di seluruh Indonesia), menata hati dan pikiran mereka. Satu setengah tahun ‘menikmati’ menjadi anggota biasa, memberikan banyak hikmah kepada saya bahwa tidak semua karyawan Telkom tahu dan bahkan peduli hidup mereka selama di perusahaan sesungguhnya diatur oleh sistem yang didalamnya dipengaruhi oleh salah satunya adalah  kualitas kerja Sekar Telkom, selain tentu saja kualitas kerja SDM. Banyak yang tidak peduli, meski tetap banyak yang peduli juga. Tetapi jika ada survey yang mencoba menakar tingkat kepedulian karyawan (anggota) pada Sekar Telkom, saya yakin masih lebih banyak yang tidak peduli daripada yng peduli.  Ketidakpedulian akan keberadaan Sekar Telkom ini akhirnya saya maklumi, ketika menyaksikan  dan merasakan ketidakpedulian pun kadang terjadi kepada unit kerja lainnya. Jadi, jangankan peduli kepada Sekar Telkom (dan aktifitasnya), kepedulian kepada unit kerja yang membutuhkan support pun tak selalu bisa terjadi. Namun ketika ada cerita dari seorang pensiunan kolega saya, ketika bertamu ke kantor bercerita dengan berseri-seri karena tak menyangka gaji dia saat pensiun, justru lebih besar dibanding saat dia masih menjadi karyawan, tentu ini membesarkan hati. Ya, sejak PKB II manfaat pensiun memang sudah dinaikkan tiga kali. Sehingga pada posisi tertentu, gaji mereka saat pensiun justru lebih besar daripada ketika aktif. Demo besar karyawan Telkomsel November 2011 lalu sehingga memacetkan ruas perempatan Kuningan ke Gatot Subroto di Jakarta dalam wadah Serikat Pekerja Telkomsel (Sepakat) menyadarkan saya – dan semoga kita semua – bahwa ternyata anak perusahaan kita yang memberi hampir 60% penghasilan Telkom Group, karyawannya masih bermasalah di hal-hal mendasar. PKB antara Sepakat dan SDM Telkomsel, rupanya belum berjalan dengan baik sehingga soal-soal mengenai kesehatan, pensiun dan sarana kerja masih mengganjal mereka. Soal-soal ini, di Telkom sudah lama selesai. Beruntunglah kita, tak perlu turun ke jalan soal-soal mendasar begitu. Karena itu, betapa berterima kasihnya saya masih ada yang mau dan konsisten menjalankan kepengurusan Sekar Telkom.

Menata hati dan pikiran adalah modal penting menjadi pengurus Sekar Telkom. Tidak ada paksaan untuk harus menjadi pengurus, dan tidak ada paksaan pula untuk tidak menjadi pengurus. Menjadi pengurus, haruslah berangkat dari hati agar ketika menjadi pengurus pun, organisasi masih bisa diurus dengan baik demi kemanfaatannya untuk dua puluh tiga ribu lebih anggota (dan keluarganya). Dan lagi anggota itu pun sudah dipotong sebagian penghasilannya untuk iuran menjadi anggota Sekar Telkom. Sedih rasanya, kalau saya masih mendengar ada cerita ke saya bahwa ada pengurus yang sudah dipilih secara demokratis, akhirnya dirasa tidak memanfaatkan ‘kekuasaannya’ untuk berbuat kebaikan kepada pemberi amanah dan lingkungannya. Organisasi dibiarkan kosong dan kehilangan aura-nya.  Organisasi pun seperti tersandera. Jika seperti itu, untuk apa masih menjadi pengurus apalagi menjadi ketuanya ?

Tidak perlu sakit hati, jika tidak ada yang menghargai hasil kerja kita, tidak perlu juga marah kepada yang sinis karena mungkin mereka belum mengerti arti penting keberadaan serikat. Tidak perlu juga  frustasi jika banyak hal yang belum sesuai dengan harapan kita. Banyak pilihan di depan kita, bekerja dan memperbaiki dari dalam melalui Sekar Telkom atau memilih bekerja dari luar dengan spektrum yang juga tak kalah luasnya. Yang penting buktikan saja terus dengan bekerja baik atas segala amanah yang diberikan kepada kita. Kalau tidak bisa memperbaiki kerusakan negeri ini, maka jalan terdekat adalah memperbaiki apa yang ada di tangan dan lingkungan terdekat kita. Dan menjadi aktifis Sekar Telkom saya kira adalah pilihan terdekat memperbaiki  neger i kita. Soal pujian, penghargaan, mari kita belajar dari Mahatma Gandhi yang tak pernah mau menerima penghargaan dan penghormatan sebagai pejabat resmi negara India di awal kemerdekaannya. Atau, mari kita teladani Bung Hatta yang menghentikan penghargaan dan penghormatan dengan memilih berhenti sebagai Wakil Presiden RI.

Di hari ulang tahun ke-12 nanti, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun ke-12 Sekar Telkom dan terima kasih kepada kawan-kawanku pengurus Sekar Telkom di seluruh Indonesia, semoga selalu diberikan kesehatan dan kekuatan menjalankan amanah.  Teruslah sabar bekerja dan berjuang dengan ketulusan hati demi anggota dan perusahaan tercinta, demi sawah ladang kita dan… pro Deo et patria (demi Tuhan dan Tanah Air).

Salam Berserikat Membuat kita Kuat.

Januar Setyo Widodo

Mantan Ketua DPW Sekar Wilsus

2 Comments

  • smart hoverboard for sale
    smart hoverboard for sale
    03.10.2016

    You’ll know this to a obese someone the actual procedure to lose weight naturally usually takes a longer time of your.

  • home
    home
    18.11.2016

    nuwfmallbdofusiviyzimwcgp

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia