Gusti Allah Ora Sare

Rakernas IV Sekar Telkom sudah usai tanggal 28 Oktober 2011 lalu, tepat pada hari peringatan ke-83 Sumpah Pemuda. Banyak sudah yang ditelurkan rekan-rekan Pengurus Sekar Telkom yang berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Ada review program kerja, ada pula Rekomendasi. Baik kepada Pemerintah maupun kepada manajemen Perusahaan. Tapi saya tidak ingin menulis hal-hal seputar Rakernas kemarin. Bukan itu yang ingin saya tulis dan ceritakan, karena namanya juga Catatan Pribadi. Soal Rakernas IV lalu, selain sudah banyak diulas di website Sekar Telkom, akan lebih pas nanti pada saatnya DPP Sekar Telkom yang mengumumkan secara resmi konten-konten Rakernas IV. Kita tunggu saja ya. Sebelum memulai, saya ingin berterima kasih kepada ratusan Pengurus Sekar Telkom yang hadir mewakili kami-kami para anggota. Terima kasih juga saya ucapkan tentunya kepada yang sudah memberi ijin sehingga kehadiran kawan-kawan Pengurus menjadi mungkin.

***

Setelah diminta menyampaikan orasi atau tepatnya sharing dihadapan 400-an Pengurus Sekar Telkom seluruh Indonesia Kamis pagi (27/10) itu, saya, Mas Wisnu Adhi (Ketua Umum), Mas Wibowo Sugiarto (mantan Ketua DPW 5 Jatim), Mas Iman (Bendahara Umum DPP) meluncur ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I, Makassar. Ya, saya memang sudah meniatkan diri menjenguk senior-senior Telkom yang sekarang sedang kena musibah itu. Setelah mengontak kawan-kawan di kantor Telkom Makassar untuk memfasilitasi ke pengelola Lapas, akhirnya kami bisa masuk dan bertemu beliau-beliau. Mereka bertiga, lengkap, ternyata sudah menunggu kami. Pak Heru Suyanto, Pak Eddy Sarwono dan Pak Koesprawoto. Kami diterima di ruang internet yang dibangun Telkom untuk Lapas Makassar. Ada sekitar 10 PC berjajar disitu. Dindingnya dihiasi dengan promo Speedy dengan warna ceria khas Speedy, merah penuh semangat. Ruangannya pun ber-AC. Kalau sudah masuk disitu, pasti tak akan menyadari bahwa kita sebenarnya ada di ruangan salah satu Lapas dengan kapasitas 1000-an narapidana, terkurung dan dibatasi kebebasannya. Setelah bersalaman dan saling berpelukan, kami pun ngobrol ringan. Mereka bertiga mengenakan pakaian sehari-hari sebagaimana kalau kita santai. Pak Heru pakai kaos, Pak Eddy pakai kemeja lengan pendek garis-garis biru dan Pak Koesprawoto memakai baju koko plus peci khas Makassar. Pak Heru, mantan Ketua Kopkar Siporennu Divre-7, bercerita dengan semangat ‘teman-teman’ barunya sekarang ini. Pencopet, perampok, pembunuh bahkan teroris pengebom pasar Makassar beberapa waktu lalu. Cerita Pak Heru ini kadang ditimpali dengan canda ringan Pak Eddy maupun Pak Koesprawoto. Masih dengan suasana ringan, Pak Eddy, mantan Deputy KKSO Divre-7, pun menceritakan bagaimana suasana batinnya – dan tentu saja keluarganya – paska dimuatnya berita mereka besar-besar di salah satu harian nasional bergengsi di Republik ini awal tahun ini. Pak Koesprawoto – mantan KKSO Divre-7 KTI, yang selama perbincangan itu tak lepas dari senyum ikhlasnya, sempat menambahkan cerita sendu saat ditanya wartawan ketika KPK menanyakan kenapa kok mereka lari. Tetap dengan senyum yang – saya yakin seperti yang saya lihat saat itu – Pak Koes menjawab dengan datar, “ Saya bukan buron Mas”. Cukup lama rupanya kita silaturahmi. Hampir dua jam, dan ketika waktu menunjukkan pukul 13 WITA kami pun pamit.  Tak lama, sebelum kami keluar ruangan internet tersebut, kami melihat rombongan Mas Wartono ‘Ipung’, Ketua MPO Sekar Telkom juga datang menjenguk. Jujur saja, melihat Mas Ipung yang memang kenal baik dengan beliau-beliau bertiga berpelukan dengan ketiganya satu per satu, ada sedikit ras ngregel (= haru) di hati saya…Ya, mungkin saja saya sedang melow, kata anak-anak jaman sekarang. Bagaimana tidak melow, saya yang masih diberi kebebasan saja masih sering mengeluh, menggerutu dan kadang marah-marah tidak puas. Sementara ketiga beliau itu masih bisa tersenyum dan tertawa di tengah musibah yang mereka alami. Saya jadi teringat lagunya Kupu-Kupu Malam Titiek Puspa yang legendaris itu, “…kadang dia tersenyum dalam tangis…”

***

Dalam perjalanan pulang dari Lapas, sambil mencari makan siang, ingatan saya melayang ke tahun 2006 lalu. Tepatnya saat Rakernas II Sekar Telkom yang dilaksanakan di bulan Maret 2006 di kantor Divre 5, di Surabaya. Saat itu, seluruh peserta Rakernas II Sekar berdiri memanjatkan doa kepada Illahi Robbi agar para senior leader Telkom saat itu, Pak Jhon Welly (Direktur SDM), Pak Komaruddin SK (mantan Diropsar), Pak Doddy Sudjani (mantan Kadivnet) dan Pak Endy Prijanto (mantan Kaprobis VoIP) – yang sedang ditahan di Bareskrim Polda Jabar – diberi kekuatan batin, ketabahan dan kesabaran dalam menjalani cobaan mereka. Saat itu, sebagai Ketua Panitia Rakernas II Sekar Telkom, saya memutarkan rekaman hampir 1 menit kondisi ‘penginapan’ para senior kita itu : beberapa sel ukuran 2 x 1 m, tumpukan baju dimana-mana, bekas-bekas makanan dan ceceran air dimana-mana. Banyak peserta Rakernas saat itu yang menyeka mata mereka. Saat itu Pak John dkk dicampur dengan dua orang tahanan wanita yang baru datang. Beberapa bulan sebelum Rakernas II itu, setelah mendengar Pak Jhon dkk ditahan di Polda Jabar pada Desember 2005, beberapa kali saya membezuk beliau. Ya, seperti pas saya di Lapas Makassar, jika bezuk Pak Jhon dkk pun hanya ngobrol ringan, tertawa dan kadang mentertawakan hal yang seharusnya menjadi sumber kesedihan.

***

Kawan-kawan, bukan maksud saya membuka luka lama. Hanya sekedar berbagi, betapa dunia bisa berubah seketika tanpa pernah kita bisa menolaknya. Yang di Polda Jabar, konon sudah di-SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan)-kan alias tidak pernah P21 (berkas lengkap diterima Kejaksaan dan siap untuk dituntut di Pengadilan). Namun, yang di Makassar, ketiga beliau sudah menjalaninya delapan bulan dari 6 tahun yang dituntutkan Jaksa. Ditambah dengan 5 bulan saat di Rutan, total jadi 13 bulan sudah Pak Koes – yang sumeleh dan penuh senyum ikhlas – bersama Pak Heru dan Pak Eddy, menjalani hari-hari yang begitu berbeda. Saat ini Pak Koes dkk sedang menunggu proses PK (Pengajuan Kembali) di MA setelah Kasasi mereka ditolak.

Kapan hal diatas akan selesai, terutama kasus Makassar? Apakah PK yang diajukan bisa dimenangkan ? Apakah akan ada keadilan ? Tidak tahu. Tapi Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN yang baru, sudah memberi angin segar. Tiga hal pertama yang akan ia lakukan di Kementerian BUMN adalah pertama, mengurangi rapat-rapat di BUMN menjadi 50% (belum jelas sebetulnya, rapat-rapat di Kementerian BUMN atau di BUMN-nya?). Kedua, mengurangi kemewahan yang biasa diterima di BUMN (belum jelas juga ukuran kemewahan yang mau dikurangi Pak Dis, panggilan akrab beliau). Dan ketiga, direksi BUMN harus berorientasi kepada hasil, bukan proses. Statement ketiga inilah yang saya maksud angin segar. Ini sepertinya terkait dengan proses pembuatan dan pelaksaaan kebijakan korporasi yang rawan kena cap korupsi. Artinya, tafsir saya kepada ucapan Pak Dis, sepanjang itu aksi korporasi, jangan takut kena gebuk tuduhan korupsi. Betul begitu Pak Dis ? Kalau betul seperti itu, mungkin test the water pertama adalah kasus Pak Edhi Widiono, mantan Dirut PLN yang sekarang sedang menjalani persidangan dengan tuduhan korupsi. Salah satu yang klausul yang dipertanyakan pengacara Pak Edhi adalah kenapa penetapan kerugian negara justru setahun setelah Pak Edhie dikenakan status tersangka. Bukan sebelumnya. Mungkin maksud si pengacara, kok tuduhan kerugian negara-nya seperti dicari-cari dulu, sementara Pak Edhi sudah ditahan duluan. Apa begitu ya? Wallahu’alam…

Ya, baik kasus Jabar maupun kasus Makassar memang punya kemiripan kalau tidak dibilang sama. Sama-sama soal kebijakan VoIP, sama-sama mengandung tuduhan ‘menyebabkan kerugian negara’ alias korupsi. Yang beda, kasus Jabar akhirnya SP3, sementara kasus Makassar jalan lagi setelah Januari 2008 ketiganya divonis bebas di Pengadilan Negeri namun kalah saat banding di Kejaksaan Tinggi dan Kasasi di MA.

Pak Dis, kalau memang niatnya menjadikan BUMN efisien dan produktif, statement ketiga Bapak sudah bagus dan benar. Efisien, karena kebijakan pengadaan misalnya, yang diadakan dengan pentahapan yang tidak perlu dan terlalu bertele-tele, jadi malah tidak efisien. Belum lagi kena ancaman korupsi. Produktif, karena waktu yang kadang terbuang cukup banyak untuk pengadaan alat-alat produksi, bisa digunakan untuk running the business soon. Seperti jargon Bapak sesaat setelah pelantikan Menteri : Kerja, kerja, kerja ! Yang ditunggu barangkali adalah realisasi dan konsistensi Bapak. Mengingat dibawah kekuasaan Bapak, ada 140-an BUMN dengan segunung permasalahan yang ada.

***

Saya – dan tentunya kawan-kawan pembaca -, berharap kasus Makassar adalah kasus terakhir yang menimpa Telkom tercinta. Selain menguras energi, tak ternilai kerusakan batin dan psikologis yang dirasakan para ‘tersangka korupsi’ itu. Tak bisa dibayangkan bagaimana keluarga dan keluarga besar mereka, mengelola musibah ini dan menempatkannya dalam relung hati dan kesabaran luar biasa, karena tetap yakin bahwa Gusti Allah iku ora sare… (Gusti Allah itu tidak tidur).

Tentu tak pernah dibayangkan bahwa hari-hari akhir pengabdian di Telkom, tidak dinikmati dengan baik dan layak. Karakter mereka dipermainkan untuk tidak mengatakannya dihancurkan. Saya kira mereka-mereka sudah menjalankan tugas mereka dengan baik saat mereka harus mengambil keputusan. Kalaupun saat ini sedang dibalik jeruji, tak berarti mereka bersalah. Ya, di jaman seperti sekarang ini, bekerja dengan baik rupanya tidak cukup. Mesti juga dengan kehati-hatian. Tapi terlalu hati-hati, tak akan ada inovasi maupun terobosan. Apalagi lingkungan BUMN dimana sekarang kita bekerja, semua bisa menjadi masalah dan dipermasalahkan di kemudian hari. Mudah-mudahan, kasus billing air time yang sedang dijadikan bola panas APWI (Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia) akhir-akhir ini, tak berakhir di meja panas pengadilan. Mudah-mudahan program TRRT (Telepon Rumah Tagihan Tetap) yang konon banyak membuat masyarakat (baca : konsumen) marah dan kehilangan respek kepada kita (baca : Telkom), bisa diselesaikan dengan baik oleh kita. Kita tidak ingin tentunya, dulu Telkom berhadapan dengan aparat, kini Telkom berhadapan dengan masyarakat yang notabene, memberi penghasilan kepada kita dan keluarga. Pak Jhon Welly dkk, Pak Koesprawoto dkk, Pak Edhi Widiono mungkin pada akhirnya tidak bersalah. Namun cap korupsi yang ‘dipaksa’ disandangkan kepada mereka, tak akan pernah mudah hilang begitu saja. Mungkin betul kata Pak Koes saat itu, bahwa saat Orde Baru cap paling mengerikan adalah ‘tidak bersih lingkungan’ dan sekarang cap itu berganti menjadi cap ‘korupsi’. Namun Tuhan memang Maha Penyayang…Kasih SayangNYA pun Ia tunjukkan lewat kawan-kawan Telkom di Makassar yang tak lepas berkirim makanan ke Lapas Makassar tiap hari, mengumpulkan kencleng ala Prita Mulyasari dan tentu saja membezuk beliau-beliau itu. Saya pun mendengar, beberapa Direksi dan Komisaris Telkom sudah menyempatkan bezuk Pak Koes dkk. Pak Jusuf Kalla (saat VoIP booming di tahun 1999, masih Komut PT. BSI mitra KSO Divre-7) pun sudah membezuk mereka. Ya, solidaritas memang indah dan menyejukkan hati. Begitulah memang seharusnya kita di Telkom, tak hanya bekerja namun juga harus tetap bersaudara dalam kondidi apa pun.

Saat pulang, dengan dada yang agak berat saya berbisik kepada Pak Koes, “ Pak, saat ini benar-benar saya hanya bisa berdoa agar Bapak dkk tetap sabar dan ikhlas….Saya pamit dulu ya Pak, mohon doa bisa meneruskan karya  Bapak di Telkom…”.

Januar Setyo Widodo

Mantan Ketua DPW Sekar Telkom Wilsus (2007-2010)

2 Comments

  • hoverboard
    hoverboard
    12.10.2016

    5/3/15/3/1 is definitely a routine who former powerlifter John Wendler devised.

  • fxs69u
    fxs69u
    14.12.2016

    A-ok fortune!
    viagra without a doctor prescription – benefits of female viagra

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia