Menyoal Kemarahan Presiden

Koran PIKIRAN RAKYAT, 22 September 2010

Oleh JANUAR SETYO WIDODO

pikiranrakyatPada inspeksi mendadak (sidak) saat memantau arus balik Idulfitri 1431 H di Pos Polisi AJU Cikopo, Jumat (17/9), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono marah besar. Kemarahan beliau terjadi ketika telekonferensi yang sedang berlangsung dengan Kapolda Jabar terputus tanpa dapat segera tertangani (instant recovery). Seketika Presiden meminta dua petinggi operator terbesar di Indonesia, Dirut Telkom dan Dirut Telkomsel dihadirkan dengan pesan tegas yang tertangkap seluruh media yang meliput presiden agar keduanya tidak terlalu lama duduk di belakang meja dan sering turun ke lapangan.

Perintah Presiden ini — berdasarkan liputan media massa dan elektronik — disebabkan Presiden menerima laporan terjadinya gangguan pada telekonferensi yang sedang berlangsung karena kegagalan layanan dua operator tersebut.

Kemarahan presiden yang tertangkap jelas, baik secara verbal maupun visual ini tentu memancing reaksi dari segenap pihak. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah mengirimkan teguran tertulis kepada kedua operator tersebut, meski menteri teknis, Menkominfo mengatakan kegagalan teknis sebenarnya hal yang biasa terjadi. Kemudian, Telkom dan Telkomsel telah memberikan penjelasan bagaimana permasalahan tersebut terjadi. Tulisan singkat ini tidak akan memperuncing permasalahan tersebut dan mencari siapa yang salah dan benar.

Model komunikasi

Roy M. Berko, Andrew D. Wolvin, dan Darlyn R. Wolvin dalam bukunya Communicating (1995) memaparkan tiga model komunikasi, yaitu model linear (komunikasi satu arah), model interaksional (komunikasi dua arah), dan model transaksional (komunikasi multiarah).

Meski komunikasi satu arah sering diperlukan, efektivitasnya sering sangat terbatas. Model ini cenderung “mengingkari” peran penting pendengar dalam menanggapi (dan karenanya juga dalam memengaruhi) pengirim serta pesan untuk memberikan umpan balik. Padahal, umpan balik ini memungkinkan pengirim memeriksa apakah suatu perintah dimengerti, suatu kebijakan diterima, pesan cukup jelas, saluran terbuka.

Tanpa perlu mengelaborasi dua model berikutnya secara terperinci, tampaknya model komunikasi seperti inilah yang sebenarnya kemarin terjadi pada kasus Cikopo. Karena semua informasi sudah dirasa cukup, Presiden langsung menetapkan “kebijakan” untuk menyelesaikan matinya telekonferensi yang sedang diikuti beliau dengan “menegur` di muka publik dua petinggi operator itu.

Model komunikasi berikutnya yang kemudian memperhitungkan umpan balik adalah model interaksional. Pandangan berikutnya tentang model komunikasi adalah gagasan bahwa komunikasi pada hakikatnya merupakan transaksi pada saat sumber dan penerima memainkan peran yang dapat saling dipertukarkan di seluruh tindakan komunikasi. Model komunikasi inilah yang diyakini mampu membangun kesadaran kedua belah pihak dan kemudian diharapkan memberikan hasil yang disepakati bersama, baik untuk masalah individual, institusional, bahkan sosial.

Kemarahan yang tepat

Kemarahan Presiden pada hakikatnya harus dipandang sebagai casus belli atau kejadian yang dapat digunakan sebagai justifikasi untuk “kemarahan” berikutnya. Jika kemarahan Presiden yang merupakan penanggung jawab tertinggi penyelenggara negara karena pemahaman dia soal betapa pentingnya moda komunikasi pada saat krusial seperti Idulfitri 1431 H lalu yang tidak boleh cacat sedikit pun, kita berharap Presiden — dan jajarannya — pun kemudian akan memiliki kemarahan yang sama terhadap berbagai layanan publik yang kini kian menjadi sorotan dan bisa-bisa memakan korban. Contohnya, kejadian matinya listrik di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (dua kali di bulan Agustus) dan satu kali pada hari Jumat (17/9) bersamaan dengan peristiwa terputusnya telekonferensi di Cikopo.

Tidak hanya ratusan penerbangan yang tertunda hanya karena matinya listrik beberapa saat itu, tetapi juga kecelakaan massal yang mungkin saja terjadi jika air traffic control (ATC) pun ikut mati dan sistem pengganti (back up system) kelistrikan tidak berfungsi. Sampai saat ini, Angkasa Pura II sebagai operator Bandara Soekarno-Hatta masih menyelidiki penyebab matinya listrik bandara yang ketiga kalinya ini.

Yang tak lekang dari ingatan kita tentunya amblesnya Jln. L.L.R.E Martadinata di Jakarta Utara sepanjang 103 meter yang kemudian memicu analisis bahwa jalan-jalan di Jakarta pun sebenarnya rawan ambles baik karena persoalan konstruksi maupun abrasi air laut.

Kita berharap, presiden dan seluruh jajaran pemerintahan dari pusat hingga daerah, memiliki “kemarahan” yang sama dan konsisten terhadap semua layanan yang dibiayai pajak masyarakat yang juga memiliki kategori layanan publik. Karena kita percaya, justru kemarahan yang tepat dan proporsional itulah yang dapat menjadi terapi bangsa ini untuk mulai mengurai segala permasalahan yang terjadi. Semoga. ***

Penulis, pengamat telekomunikasi dan Ketua DPW Sekar Telkom Wilayah Khusus (Wilsus), weblog: www.januarsw.com.

No Comments

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia