World Cup 2010 dan GANEFO

world cup 2010Piala Dunia 2010 telah dibuka 11 Juni kemarin di stadion Soccer City, Johannesbur, Afrika Selatan. Dengan diiringi atraksi pesawat jet, helaran bola paling akbar di planet bumi ini digelar sebulan ke depan. Dipastikan semua superhero bola dari berbagai Negara akan turun membela negaranya masing-masing. Sementara, lupakan dulu heboh video, Century atau malahan pemilihan Ketua KPK.

Ya, Piala Dunia sejak dulu memang pelepas penat. Tidak hanya bagi penggila bola, bahkan bagi yang tak suka bola pun Piala Dunia memberikan pengaruh. Paling tidak, penjadwalan ulang tidur dan ekstra pengeluaran untuk teman menonton. Afrika Selatan memang fenomenal. Setelah menyelesaikan rekonsialisi nasional antara korban politik apartheid dan pelakunya, Negara ini terus berbenah menuju masa depan. Lupakan segregasi ras, lupakan pertikaian dan pembunuhan. Songsong kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Dan persetujuan FIFA untuk menjadikan Afrika Selatan sebagai penyelenggara bisa jadi milestone rakyat Afrika Selatan khususnya dan bagi benua Afrika bahwa mereka sudah mampu menggelar pesta skala dunia ini. Meski Nelson Mandela yang berpengaruh besar pada terpilihnya Afrika Selatan sebagai penyelenggara tak hadir pada pembukaan karena cucunya kecelakaan, even besar ini memang begitu membanggakan bangsa ras Negroid di manapun ia berada.

***

Beberapa waktu lalu, di jalan-jalan ibukota terpasang spanduk sangat menantang. Spanduk itu berisi permintaan dukungan kepada masyarakat agar tahun 2022 Indonesia bisa menjadi penyelenggara Piala Dunia. Tahun 2022 itu artinya dua belas tahun lagi atau tiga kali perhelatan piala dunia dilaksanakan, tiga kali ganti Presiden (kalau presidennya tidak dua kali menjabat),  baru Indonesia jadi tuan rumah. Tapi entah kenapa, pemerintah tak menyetujui gagasan itu. Konon, PSSI diminta fokus dulu membenahi dulu sistem dan prestasi bola Indonesia dulu, baru mikir soal dunia. Mungkin PSSI disuruh memberesi dulu dari soal supporter yang gampang rusuh, sampai korupsi yang menghancurkan internal PSSI. Mungkin pemerintah khawatir, karut marut persepakbolaan Indonesia bakal mempengaruhi persepsi FIFA (dan berarti persepsi dunia) soal kemampuan Indonesia. Ya sudah, raiblah spanduk-spanduk itu kini…Padahal, 2022 itu dua belas tahun lagi lho, bukan tiga atau empat tahun…

Maket Gelora BK-editTahun 1962 Bung Karno menyatakan akan  mengadakan Olimpiade tandingan. Ceritanya, pada Asian Games 1962 di Jakarta, Indonesia melarang keikutsertaan Taiwan dan Israel. Pelarangan keduanya karena solidaritas. Yang satu solider dengan Cina, karena saat itu poros kita memang Jakarta-Peking dan Cina masih bermasalah dengan status kedaulatan Taiwan, bahkan sampai sekarang. Pelarangan Israel, jelas karena solidaritas kita pada Palestina. Rupanya, pelarangan ini diprotes oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). IOC mempertanyakan legitimasi Asian Games di  Jakarta itu. Bahkan Federasi Asian Games yang diketuai IOC juga menskors Indonesia untuk tidak dapat mengikuti Olimpiade karena kedua Negara tersebut,kata IOC, anggota resmi PBB. Tentu kita tahu sikap tegas Bung Besar ini. Ia tak bisa dilarang dan diancam begitu saja, apalagi jika menyangkut martabat negeri yang ia perjuangkan sejak muda ini. Ia marah dan memutuskan Indonesia keluar dari IOC dan menuduhnya sebagai antek imperialisme. Tidak hanya itu, Sukarno pun memutuskan akan membuat Olimpiade tandingan dengan nama GANEFO (Games of The New Emerging Forces).  Untuk memujudkannya, dibangunlah Stadion Senayan – yang kini bernama gelora Bung Karno – yang konon saat itu dibangun dengan konstruksi atap sarang burung  termaju di jamannya. Arsitek dan insyurnya, dibantu Uni Sovyet yang kini sudah almarhum. Dananya diambil dari retribusi rakyat. Dari mulai parkir, tiket bioskop dan lain-lain. Bersamaan waktunya, dibangun pula Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi serta pelebaran Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Moh Thamrin dan Jalan Jenderal Gatot Subroto. Akhirnya mimpi besar Soekarno untuk sejajar dengan bangsa-bangsa barat kolonialis terwujud. GANEFO terselenggara dengan sukses di akhir tahun 1963  yang diikuti 2200 atlit dari 48 negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dengan diliput sekitar 450 wartawan asing. Memang GANEFO diboikot negara-negara barat. Tak ada berita Ganefo disana, tapi saat itu Indonesia memang banyak teman, dihormati kawan dan jadinya memang disegani lawan, sehingga kecuali negara-negara barat, saat itu Ganefo menjadi news of the world.  Dengan mengusung semboyan Maju Terus Pantang Mundur  ! (Onward, No Retreat !), GANEFO sukses besar. Saya yang lahir dari generasi 70-an masih ingat, begitu masyhurnya GANEFO ini, bahkan salah satu guru SMP saya, di sebuah sekolah di kecamatan kecil, memiliki nama akhir yang terinspirasi dari nama games dunia made in Indonesia ini. Tentu saja yang huruf “ o” diganti “ i ”, karena ia seorang ibu guru. Luar biasa.

Sayangnya, kondisi politik Indonesia, akhirnya membuat rencana pelaksanaan GANEFO ke-2 di tahun 1967 di Kairo, Mesir dibatalkan.

***

Betul kata Bung Karno, pada akhirnya olah raga memang tak bisa dipisahkan dari politik. Hitler pada Olimpiade Berlin 1936, ketika supremasi bangsa Aria jadi ideologi tak mau menjabat tangan Jesse Owen sang pelari pemenang dari Amerika Serkat yang berkulit hitam yang mengalahkan atlit Jerman. Olimpiade Munich 1976, bahkan diwarnai penculikan dengan latar belakang konflik Palestina – Israel. Jadi, jika olah raga juga politik, mestinya pemerintah kita tak perlu ragu-ragu mendukung gagasan Piala Dunia Indonesia di tahun 2022. Justru pencanangan ini akan membuat  kita terpacu, fokus dan mati-matian membuktikan bahwa Indonesia bisa bikin even bola dunia, bukan cuma bisa kirim TKI dunia atau malah masyhur karena video artis yang syur. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sunguh, akan berhasil.

Ah, itu kan kalau kita bukan bangsa tempe. Wallahu’alam.

JANUAR SETYO WIDODO

No Comments

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia