Tangan Tuhan dan Business Summit 2010 IKA ITS

busum ika 2010Dalam rangka ulang tahun ke-50 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang jatuh pada tanggal 10 Nopember mendatang, Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) menggelar Business Summit 2010 IKA ITS (Busum 2010 IKA ITS). Dengan mengusung tema, “ Mengembangkan Jejaring Bisnis Untuk Menguatkan Daya Saing Ekonomi Bangsa” telah usai dilaksanakan di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, SCBD, Jakarta Rabu (23/6) lalu. Dibuka Wakil Presiden RI, Prof. Boediono, gelaran ini menyedot peserta yang memenuhi seluruh ruangan ballroom. Yang tidak tertampung, karena terlambat atau kehabisan tiket, harus cukup puas mengikuti dari luar ballroom melalui beberapa panel televisi yang disediakan panitia. Ditaksir sekitar 650 orang hadir memenuhi pembukaan Busum 2010 IKA ITS ini. Wapres mengangkat isu keterkaitan perguruan tinggi dan kewirausahaan dalam kaitannya dengan daya saing  bangsa. Beliau sampaikan, tak akan maju suatu bangsa jika kalangan pengusaha atau entrepreneur di suatu bangsa jumlahnya tak signifikan. Karena itu, perguruan tinggi sudah harus menjadikan entrepreneurship bagian dari kurikulumnya. Setelah pembukaan, Stadium Generale yang selanjutnya sedianya dilaksanakan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, diwakilkan kepada salah satu Deputy Menko, Pak Luki Eko Prawiro. Pak Luki banyak mengangkat potensi negeri kita jika dikaitkan dengan target pendapatan Rp 2000 Triliun pertahun untuk mencapai Rp 10.000 Trilun di akhir kepemimpinan SBY di 2014 dengan pertumbuhan ekonomi per tahunnya 7,7%. Setelah rehat makan siang, dua Business Chamber dilaksanakan secara parallel. Business Chamber A mengupas persoalan infrastruktur, wapres dan dwi sperindustrian dan energy. Di paruh kedua sore itu, Menteri Pekerjaan Umum RI Djoko Kirmanto berkenan hadir sebagai salah satu panelis bersama beberapa panelis dari IKA ITS. Di Chamber B, persoalan ICT (Information and Communication Technology) dan Kelautan menjadi topik bahasan para panelis. Menteri Kelautan dan Perikanan RI Fadel Muhammad hadir bersama panelis lainnya di sesi pertama Chamber B ini. Menteri Kominfo RI Tifatul Sembiring hadir di sesi kedua. Beberapa catatan sudah dirangkum Steering Committee (SC) untuk kelima sektor itu. Sebagian diantaranya, langsung di-release ke publik begitu acara ditutup Menteri Pekerjaan Umum. Minggu depan ini, SC masih menyusun mozaik pemikiran yang terangkum menjadi kerangka yang utuh untuk diserahkan kepada pemerintah. Harapan yang ditunggu Wapres juga saat pembukaan. Hadir juga Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh yang juga merupakan Ketua Senat IKA ITS. Konten lainnya, dapat di-search di internet.

***

logo-ika-baruGelaran akbar ini pertama kalinya buat IKA ITS. Mendatangkan seorang Wapres dan beberapa Menteri di satu even untuk membahas persoalan bangsa adalah hal cukup berat. Dirancang hampir dua tahun, gelaran ini akhirnya terwujud. Sebagai salah satu SC yang membidangi sektor ICT sesuai background saya, banyak hal berkesan dari gelaran ini. Rapat-rapat SC yang digelar hampir tiap minggu di Jakarta, menyisakan kenangan buat saya. Rapat yang melibatkan banyak senior saya dari berbagai background profesi ini menunjukkan pada saya, bahwa kekuatan terbesar dari sebuah keberhasilan adalah keyakinan akan keberhasilan itu sendiri. Disamping tentu saja, komitmen para penyelenggaranya. Seorang senior saya salah satu pimpinan perusahaan perminyakan swasta nasional, tekun sekali mengikuti rapat-rapat SC yang seringkali berakhir mendekati pergantian hari. Beliau selalu hadir. Malahan saya justru baru intens hadir di rapat-rapat SC sebulan sebelum pelaksanaan. Sebelumnya, koordinasi lebih sering saya ikuti melalui e-mail dan SMS. Saya terinspirasi sekali dengan beliau. Senior lainnya, politikus dari salah satu partai tiga besar pemenang Pemilu 2009, juga intens mengikuti setiap rapat SC yang digelar. Rapat SC terakhir sebelum penyelenggaraan malah digelar di kantornya Gedung DPR RI. Itu hanya dua yang saya ceritakan dari beberapa rekan SC lain yang meski tidak intens mengikuti rapat-rapat SC, tapi pasti memiliki kontribusi besar akan suksesnya gelaran lalu.

***

Gelaran yang besar pasti menyisakan cerita tak terlupakan dibaliknya. Pada rapat SC terakhir, setelah lima sektor tuntas diulas dan dibahas, persoalan yang dibahas justru masalah yang dihadapi Organizing Committee (OC) yakni mengenai lokasi Pembukaan Busum 2010 IKA ITS yang sudah dipastikan dibuka Pak Boediono, Wapres RI. Protokoler istana memang memiliki code of conduct sendiri. Pilihan tempat pembukaan ternyata menjadi dua. Pertama, dan ini harapan Panitia, dibuka langsung di Hotel Ritz Carlton. Pilihan kedua, dan ini muncul belakangan, justru dibuka di Istana Wapres, di Jalan kebon Sirih itu. Pilihan pertama membutuhkan prasyarat bahwa ballroom Ritz Carlton harus penuh yang berarti, menurut hitungan Protokol Istana, minimal dibutuhkan sekitar 500 orang. Jika kurang dari itu, maka jatuhlah pilihan kedua yakni pembukaan akan dilaksanakan di Istana Wapres yang berkapasitas 250 orang. Jika pilihan pertama yang dipenuhi panitia, hadangan terbesar cuma satu yaitu bagaimana memastikan gelaran ini bisa dihadiri minimal 500 orang. Tapi jika pilihan kedua yang diambil, yang menghadang panitia jadi dua : bagaimana mengubah informasi pelaksanaan pembukaan menjadi di Istana Wapres sementara di undangan yang tersebar sudah dicetak di Ritz Carlton, dan bagaimana ‘membagi’ peserta di kedua tempat yakni sebagian di Istana Wapres yang hanya berkapasitas sekitar 250 orang dan sebagian lagi di hotel Ritz Carlton bagi yang sudah terlanjur datang ke Ritz Carlton. Tapi tak mungkin yang ‘ditinggal’ di Ritz Carlton juga tak bisa mengikuti acara pembukaan. Maka, muncullah gagasan menggunakan teknologi video conference antara Istana Wapres dan ballroom Ritz Carlton. Putusan yang sulit, mengingat gelaran akbar tinggal empat hari, dan salah satu operator telekomunikasi yang dihubungi menyatakan tak sanggup memenuhi permintaan panitia. Malam itu, pada rapat SC yang terakhir, SC   memutuskan pembukaan tetap di Ritz Carlton.

***

Begitulah….Saya katakan melalui SMS kepada salah satu senior saya yang di OC menanggapi kekhawatirannya, bahwa yang sekarang kita lakukan hanyalah berusaha keras mendistribusikan undangan yang ada di sisa-sisa waktu dan berdoa dengan segenap keyakinan bahwa pada saatnya, Tuhan akan turun tangan. Tapi tentu tak seperti ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona di Final Piala Dunia 1986 yang membantunya memasukkan gol ke gawang Pieter Shilton dari Inggris dan membawa Argentina jadi Juara Dunia.

Seperti kata Prof. Yohannes Surya, pengasuh para Juara Olimpiade Fisika, jika keyakinan sudah sangat kuat, maka tak ada pilihan bahkan alam semesta pun turut mendukung… Wallahu’alam.

JANUAR SETYO WIDODO

1 Comment

  • home
    home
    23.11.2016

    wiolrkjldftwebseldbhfp

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia