Sisi Gelap Facebook

facebook1Dunia benar-benar makin mengecil, datar dan berada dalam ‘genggaman’ kita tanpa batas apa pun. Hadirnya salah satu situs jejaring sosial (social networking web) terpopuler saat ini, Facebook, kian memperkuat tesis Friedman dalam buku populernya, The World is flat (dunia yang datar) karya Thomas L. Friedman. Sejak Februari 2009 Facebook yang membuat penciptanya, Mark Zuckerberg, menjadi milioner termuda yang masuk Fortune 400 di AS tercatat telah memiliki 150 juta pemilik akun. Melampaui situs sejenis pendahulunya seperti MySpace, Friendster,  Orkut, hi5 dan lainnya.

Saya memutuskan untuk bergabung dengan Facebook 14 Februari lalu, setelah beberapa kali mendapat undangan beberapa rekan. Ini adalah pengalaman pertama saya memanfaatkan situs jejaring sosial dan kemudian memiliki akunnya. Facebook, sebagaimana sering diceritakan memang layak diminati. Selain memiliki banyak aplikasi menarik, satu hal yang kemudian menjadi nilai lebih dibanding situs jejaring sosial adalah kultur yang dibangun Facebook dengan keaslian identitas pemilik akun. Meski di dunia cyber, keaslian identitas bisa saja masih bisa dipertanyakan, tapi hal ini masih dijaga oleh tim pengembang Facebook dan tentu saja komunitas pengguna Facebook. Tak heran, beberapa pemilik akun Facebook adalah birokrat, tokoh masyarakat, politisi dan tentu saja para selebritas. Sepanjang pengalaman saya sampai dengan saat ini, kultur yang dibangun Facebook dengan keaslian identitas pemilik akun, benar-benar membawa kepada pengalaman baru. Saya misalnya, ‘bertemu’ kembali dengan rekan satu SD yang sudah tidak bertemu semenjak 25 tahun lalu. Yang nampaknya nyaris mustahil terjadi tanpa bantuan Facebook dengan kultur keaslian identitas yang dimilikinya. Belum lagi, kelengkapan identitas itu bisa diperkuat dengan isian info dan profil pemilik akun yang dilengkapi sederet foto pengingat. Begitulah, selapis demi selapis, tumpukan memori yang terjadi bertahun-tahun lalu yang menempel pada diri kita dan kawan-kawan di setiap tingkatan komunitas ataupun lingkungan yang pernah kita lalui hingga detik ini, hadir kembali bagai film flashback yang diputar pelan-pelan mundur ke belakang. Keceriaan masa SMA, kenangan-kenangan lucu di masa SD maupun cerita-cerita konyol ketika mahasiswa, mengalir begitu saja seketika pada saat rekan ‘masa lalu’ kita itu memuat foto jaman dulu (jadul) yang ketika itu kita masih ‘bocah dan culun’ plus komentar-komentar pelengkap penderitanya. Nampaknya, putaran waktu ke belakang dengan segala aksesoris yang menempel inilah sebenarnya yang menjadi keasyikan tersendiri bagi pemilik akun Facebook.

Facebook memang menciptakan fenomena. Namun sebagaimana sifat komplementer alam semesta : ada proton (unsur atom bermuatan positif), ada pula elektron (unsur atom bermuatan negatif). Facebook juga memiliki sisi gelap, untuk tidak disebut sebagai sisi buruk.

Beberapa hal yang bisa saya catat sebagai sisi yang perlu diwaspadai adalah sebagai berikut :

  1. Broadcast effect : fasilitas wall yang dimiliki Facebook memungkinkan tiap orang yang telah berteman membaca dialog yang kita lakukan di wall. Sebagaimana tiap orang bisa membaca apa pun yang tertulis di sebuah tembok (wall) yang kita lewati. Bagi sebagian orang, ini bisa menciptakan kondisi seperti ‘kuping dan mata Superman’, apapun yang ditulis dan dibicarakan, seketika sampai kepada seluruh kawan yang ada. Cara terbaik memanfaatkan wall adalah mempelajari privacy setting. Ada yang menutup sama sekali fasilitas wall, tapi ada juga yang hanya membuka bagi yang menulis, namun jawaban kita sebagai pemilik akun, tak ditampilkan. Untungnya Facebook masih menyediakan fasilitas message yang masih menjaga percakapan hanya terjadi diantara pengguna message. Persis seperti fasilitas e-mail yang kita miliki.
  2. Self-Explore effect : tak dapat dipungkiri, Facebook pada akhirnya menjadi etalase pribadi paling efektif. Dalam bahasa pertemanan, Facebook bisa menjadi tempat menampilkan citra kesempurnaan diri bahkan sampai tingkat yang sangat detil dan sempurna (narcism) utamanya melalui rangkaian foto-foto yang melengkapi profile pemilik akun. Bagi yang menyadari narcism sulit dilakukan di dunia off-line (baca : dunia nyata), Facebook-lah tempatnya. Namun, bisa jadi malah sebaliknya bahwa bahkan di dunia online pun seseorang ternyata tidak juga bisa ‘memperbaiki citra diri’ mereka. Artinya, tetap saja humor dan lelucon yang sering dilakukan secara off-line, tetap mengikutinya di dunia online juga. Sah-sah saja. Karena akun Facebook adalah milik anda sendiri, maka andalah sutradara sekaligus investornya. Saran terbaik adalah tetap menjadi diri sendiri.
  3. Addiction effect : sulit mengingkari bahwa Facebook dengan segala fasilitasnya bisa menjadikan pemilik akun ketagihan. Sering kita baca ulasan di media bagaimana seorang pemilik akun Facebook begitu ketagihan, karena akhirnya dimanapun ia berada maka koneksi Facebook menjadi perhatiannya dari mulai berangkat kantor, di jalan, di kantor bahkan sampai kembali ke rumah. Pusat perhatiannya adalah Facebook. Dalam beberapa hal mungkin ini bisa mempengaruhi produktifitas kita. Bahkan penggunaan perangkat tertentu yang dengan cerdik memanfaatkan koneksitas antara lain dengan Facebook ini, bisa-bisa menciptakan autisme sosial : dimana saja, kapan saja asyik memainkan jemarinya hingga tanpa sadar lift yang ia tumpangi telah menyisakan ia seorang diri. Sebuah video kiriman rekan di Facebook saya berisi puisi sang anak tentang ibunya yang tiba-tiba mengidap ‘autisme’ setelah mengenal Facebook, bahkan sampai diibaratkan sang ibu akan membawa laptopnya ke surga karena tak mau kehilangan kontak dengan Facebook. Facebook memang mendekatkan yang jauh, tapi terkadang menjauhkan yang sudah dekat.
  4. Intelligence effect : dengan berbagai kemudahan mendapatkan informasi, Facebook memang bisa menjadi ‘agen rahasia’ bagi orang lain. Itulah yang kemudian memunculkan cerita sendu (bahkan seram) para pemilik akun : pasangan yang bercerai karena pengingkaran status, pembunuhan pasangan gay karena cemburu (terjadi di Bandung), dan lain-lain. Buku Step by Step Facebook karya Sartika Kurniali mencatat beberapa kasus nyata yang terjadi sebagai akibat penggunaan Facebook. Karena itu banyaknya teman ‘maya’ yang dihimpun bukanlah sebuah ukuran. Saran terbaik memang tetap selektif melakukan proses add friend maupun confirm friend.

Namun Facebook adalah alat, bukan tujuan. Tetaplah pemilik akun sebagai man behind the gun. Semua tergantung pemilik akunnya. Sangat banyak hal positif yang ditawarkan Facebook jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Grup diskusi yang membahas tema tertentu, petisi (cause) yang melakukan aksi terhadap sebuah isu, pages yang dibuat khusus pengguna Facebook yang berisi informasi lengkap sebuah topik (tokoh, institusi, hobi, dan lain-lain) untuk memperkaya wawasan, kuis yang terkadang sangat menghibur di tengah rutinitas pekerjaan dan tentu saja media silaturahmi yang sangat murah dengan para kolega.

Jadi mau narsis, mau serius, mau biasa-biasa saja ataupun mau kampanye, monggo saja. Kata sebuah iklan, ‘enjoy aja…’ ***

JANUAR SETYO WIDODO

No Comments

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia