Ekonomi Telekomunikasi

Oleh JANUAR SETYO WIDODO

Empat sasaran prinsip yang ditekankan Pemerintah dalam kaitannya dengan Information and Communication Technology (ICT) adalah ketersediaan (availability), keterjangkauan (affordability), kemampuan (capability) dan kemauan (desirability). Keempat aspek ini harus menjadi pembuka akses informasi dan komunikasi, pendorong pertumbuhan ekonomi serta pada akhirnya meningkatnya kesejahteraan rakyat.

Indikator baru
ICT atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah menjadi salah satu indikator kemajuan suatu bangsa, selain tentu saja pemeringkatan lain terkait daya tarik terhadap investasi seperti tingkat korupsi dan tingkat resiko suatu negara (country-risk). Ketersediaan dan keterjangkauan memang berada pada sisi pemerintah, sementara kemampuan dan kemauan berada pada sisi masyarakat (konsumen). Problem negara kepulauan seperti Indonesia tentu saja adalah ketersediaan. Terutama tempat-tempat terpencil negara kita, unsur TIK yaitu telekomunikasi masih menjadi barang langka. Teledensitas – jumlah telepon tetap per 100 penduduk – masih sangat kecil dibanding negara tetangga, yaitu 4%. Sementara menurut pemerintah, masih ada 43.000 desa yang perlu segera bebas buta informasi melalui penetrasi telepon, dan kemudian tentunya penetrasi internet. Jumlah itu tentunya tidak sedikit. Ketersediaan yang memenuhi batas minimum, diharapkan memang akan menciptakan keterjangkauan harga. Mana yang didahulukan, sebaran ketersediaan sarana dan prasarana TIK atau harga yang terjangkau, tak perlu diperdebatkan seperti halnya mana yang lebih dulu telor atau ayam. Semua pihak mesti menyadari bahwa keduanya bisa dijalankan secara paralel. Operator telekomunikasi harus diajak untuk terus melakukan investasi di seluruh pelosok negeri. Mereka juga perlu dibangun kesadarannya, bahwa pada awalnya memang membutuhkan dana besar melakukan ekspansi ke daerah-daerah kecil tersebut. Tetapi dengan semakin terasa manfaat berkomunikasi, investasi mereka justru akan menumbuhkan peluang pasar baru. Banyaknya operator telekomunikasi (tercatat sudah ada sebelas operator), harus berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah pelanggannya. Juga haruslah berbanding lurus dengan sebaran jumlah pelanggan yang bisa diperoleh. Tidak perlu terus terpaku pada kota-kota besar, tapi cobalah tengok saudara-saudara kita di 43.000 desa tersebut. Betapa ironisnya, saudara kita di pulau terluar sebelah utara negeri kita, pulau Miangas, penduduknya justru lebih mudah menangkap sinyal informasi dari Pilipina, dibanding dari negeri sendiri. Padahal mestinya pulau terluar haruslah menjadi halaman negeri kita yang justru harus dihias.

Ekonomi Rakyat
Pada tahun 90-an ketika booming telekomunikasi didorong oleh bagusnya harga minyak, pelaku usaha skala rumahan bermunculan melalui sebuah warung yang menjual produk telekomunikasi, bukan produk kelontongan biasa. Cukup dengan sepetak bilik ukuran kecil, maka sebuah bisnis yang sangat cepat mengembalikan Return on Investment (RoI) sudah berjalan. Bisnis berjalan, ekonomi pun tumbuh. Tenaga kerja diserap dan sebaran informasi pun mencapai skala ekonomis karena bisnis skala warung ini, meski kecil, namun volumenya dengan cepat membesar di seluruh pelosok nusantara.
Dengan berkembangnya teknologi telekomunikasi, kini bisnis rumahan tersebut memang sudah mulai surut. Tapi bisnisnya sendiri terus berjalan dengan bentuk baru yaitu penjualan isi ulang pulsa. Karakteristik bisnisnya pun mirip. Kecil, cepat mengembalikan RoI namun volumenya besar dan cepat bertumbuh. Juga terdapat di pelosok nusantara. Kalau sudah begini, maka dua aspek yang ada pada sisi masyarakat yaitu kemampuan dan kemauan, pada akhirnya memang sudah memadai. Sebaran telekomunikasi yang memadai, pada akhirnya akan mendorong pada konsumsi informasi juga. Yaitu melalui internet. Dua-duanya saling melengkapi. Telekomunikasi memberikan fasilitas untuk akses, internet memberikan ketersediaan informasi. Dan keterjangkauan pada informasi melalui internet, pada sisi positifnya, tentu akan membuka cakrawala anak bangsa, termasuk salah satunya adalah meningkatkan skala ekonomi masyarakat melalui internet. Dan pada gilirannya diharapkan meningkatkan taraf kecerdasan masyarakat menuju masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society).
Apa yang diuraikan nampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya mendasar. Ini jika TIK akhirnya menjadi salah satu barometer kemajuan bangsa sebagaimana World Economic Forum nyatakan bahwa untuk negara non-core innovator seperti posisi Indonesia saat ini, ketersediaan infrastruktur telekomunikasi dapat memberikan kontribusi sebesar 17% terhadap indeks daya saing bangsa, dan 25% untuk negara core innovator . Dan persoalan daya saing bagi Indonesia saat ini sedang menjadi pekerjaan rumah amat berat seluruh komponen negeri ini. Tentu, dengan semakin tinggi ketersediaan dan keterjangkauan sarana dan prasarana TIK, satu aspek dari sektor telekomunikasi dapat menyumbang perbaikan daya saing negeri kita.

2 Comments

  • empmrv
    empmrv
    24.01.2017

    Here at brand cialis 20mg, each and every patient is uncommonly momentous to us. We are providential to have multitudinous quality choices payment salubriousness tribulation in Anchorage and we value the monopoly you place in us.

  • cpjkcq
    cpjkcq
    15.02.2017

    Value The Affordable Care Dissimulation is the most noted health tribulation legislation enacted in the Common States since the creation of Medicare and Medicaid in 1965. The law implemented comprehensive reforms viagra without perscription designed to update the accessibility, affordability, and quality of fettle care.

Leave a Comment

Copyright 2015 © Januarsw.com . SmartNesia